Sarah (part 7)

Sarah ingat beberapa hari setelah putus, dia masih dekat dengan Bintang. Bintang masih mengantarkannya pulang. Bahkan Bintang menghabiskan waktu seharian dengannya di rumah Sarah. Lalu, saat akan pulang Bintang mengecup dahi Sarah. Sarah semakin bingung. Sebenarnya apa yang Bintang inginkan?

Namun, Sarah mulai berusaha untuk berhenti berharap pada Bintang setelah Bintang mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan baginya.

“Bintang, aku butuh kamu. Aku sayang kamu. Aku gak mau kita putus”, pinta Sarah melalui telepon pada Bintang.

“Maaf Sarah. Aku enggak bisa.”

“Kenapa?? Kenapa enggak bisa? Aku sayang sama kamu Bintang, aku sayang kamu”, ujar Sarah sambil menangis.

“Pokoknya aku enggak bisa Sarah. Aku enggak pantas buat kamu. Kamu bisa dapetin yang jauh lebih baik daripada aku.”

“Ada orang lain kan? Ada cewek lain kan? Iya kan? Ngaku aja kamu!!!”

“Enggak Sarah. Enggak ada. Sumpah, enggak ada cewek lain.”

“Terus kenapa? Kamu udah enggak cinta lagi sama aku?”

“Iya Sarah. Aku enggak cinta sama kamu.”

“Apa sekarang kamu benci sama aku??”, tanya Sarah dengan suara terbata-bata karena ia menangis semakin kencang.

“Iya. Aku benci sama kamu.”

“Tapi kenapa Bintang?? Kenapa??”

“Aku enggak suka aja sama kamu.”

“Apa?? Kamu bohong kan??”

“Aku enggak bohong. Sumpah demi Allah aku benci sama kamu. Aku bener-bener benci sama kamu. Udah dulu ya, assalamu’alaikum”, lalu Bintang segera menutup teleponnya, meninggalkan Sarah yang menangis sendirian.

***

Sudah berminggu-minggu kedua mata Sarah selalu basah dengan air mata, mulutnya tak lagi menyunggingkan senyum, berat badannya turun drastis karna dia tak memiliki nafsu makan.

Sarah terus saja menangis. Sarah menangis setiap melihat Bintang dan mantannya saling sapa di fb. Sarah menangis setiap melihat Rani mengajak Bintang makan melalui fb. Sarah menangis melihat Rani memanggil Bintang dengan sebutan abang melalui fb. Sarah menangis setiap melihat foto-fotonya dengan Bintang. Sarah menangis setiap dia mengingat segala kenangan indah bersama Bintang. Sarah menangis setiap melihat Bintang. Air mata Sarah seakan tak pernah kering.

Sampai saat ini, Sarah tidak pernah mengerti alasan yang membuat Bintang begitu cepat berubah, hingga sampai pada suatu hari Sarah chattingan dengan mantan Bintang yang bernama Ran. Saat itu Ran memberitahu Sarah bahwa selama Sarah pacaran dengan Bintang, Bintang pernah meminta Ran untuk jadian lagi dengannya dan Ran hampir saja menerimanya namun akhirnya ia tolak. Tak cuma itu saja, menurut Ran, Bintang memiliki dua fb. Fb yang satu adalah fb yang Sarah punya dan yang satunya lagi Ran pun tidak memilikinya. Namun, Ran pernah melihat fb Bintang yang satu lagi melalui fb teman Ran, dan di situ Bintang sangat dekat dengan temannya yang bernama Kiky, yang sekali lagi menurut Ran, merupakan penganggu hubungannya dengan Bintang saat mereka masih pacaran.

Sarah tidak tahu apakah Sarah harus percaya atau tidak. Dia berusaha tidak mempercayai itu semua, karena di dalam hatinya ia sangat yakin Bintang tidak seperti itu. Namun, akhirnya waktu yang menjawab semuanya. Hampir dua bulan setelah mereka putus, Bintang telah jadian dengan seorang cewek bernama Kiky. Kiky yang sama dengan Kiky yang diceritakan Ran dan Kiky yang ditulis Bintang dalam smsnya yang salah kirim hingga sampai ke Sarah. Ternyata Bintang telah menduakannya sudah sangat lama dan Sarah tak pernah menyadarinya. Dia terlalu mempercayai Bintang, dia terlalu mencintai Bintang sehingga buta akan kenyataan.

Tangis Sarah semakin tak terkendali. Ia terus saja menangis hingga ia mulai merasa tidak betah menuntut ilmu di kampusnya saat ini karna dia tak tahan melihat Bintang. Sarah memutuskan untuk pindah. Sebenarnya sejak ia masih SD, Sarah bercita-cita untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi kedinasan di Jakarta tempat orang tuanya menuntut ilmu. Hingga ia diterima di kampusnya saat ini pun, impian itu tak pernah hilang. Namun, sejak ia jatuh cinta pada Bintang, ia tak lagi ingin kuliah di sana. Sarah hanya ingin selalu dekat dengan Bintang. Kini keadaan telah berubah. Bintang mengkhianati cinta dan kepercayaannya, Bintang menyanjungnya tinggi-tinggi lalu membuangnya begitu saja. Sarah bertekad untuk kembali meraih impiannya menuntut ilmu di perguruan tinggi kedinasan tersebut.

Akankah Sarah benar-benar pindah padahal untuk masuk ke perguruan tinggi kedinasan tersebut sangat susah? Akankah Sarah mampu melupakan Bintang?

***

(bersambung)

Sarah (part 6)

Sarah memiliki seorang teman dekat di kampusnya yang bernama Rani. Rani seorang perempuan yang tomboy, polos, manja dan kekanak-kanakan. Sarah sangat mempercayai Rani. Walaupun Mita adalah sahabat Sarah, namun Sarah hanya menceritakan semua masalahnya dengan Bintang saat mereka masih pacaran pada Rani. Rani memang tidak bisa memberikan solusi yang baik tapi dia adalah seorang pendengar yang baik. Itu semua lebih dari cukup bagi Sarah. Sarah hanya membutuhkan tempat untuk bercerita. Sarah sayang pada Rani sebagai seorang sahabat, Sarah sangat berterimakasih karna Rani selalu mendengarkan keluh-kesah Sarah.

Saat Sarah putus dari Bintang, orang pertama yang dia telepon adalah Rani. Sambil menangis sesenggukan, dia menceritakan semuanya pada Rani. Tidak hanya lewat telepon, Sarah pun bercerita lewat sms.

Mungkin tindakan Sarah mulai menganggu Rani hingga suatu kali saat Sarah sedang hilang kendali, dia sms Rani.

To : Rani

From : Sarah

Ran, aku masih sayang banget sama Bintang. Aku masih aja nangisin dia. Aku butuh dia Ran. Aku kangen banget sama dia. Tapi, aku tahu dia udah ninggalin aku. Aku ngerasa aku bodoh banget.

Sarah berharap Rani mengirimkannya kata-kata penyemangat, tapi ternyata sebaliknya.

To : Sarah

From : Rani

Iya, kamu bodoh

Sarah sangat tersinggung dengan kata-kata Rani. Sarah merasa Rani mulai berubah dan itu memang benar.

Sarah melihat akhir-akhir ini Rani dan Bintang menjadi sangat dekat. Di facebook, Rani dengan terang-terang mengajak Bintang makan berdua. Rani memanggilnya abang. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.

Tidak hanya itu, Rani semakin sulit dihubungi. Saat Sarah sms dia untuk curhat, Rani memberikan jawaban tidak jelas. Katanya dia sedang pergi. Ternyata dari facebook terlihat kalau saat itu Rani sedang pergi dengan Bintang.

Sarah benar-benar kecewa.

***

“Kenapa sih kamu? Ngeliatin apa?”, tanya Mita saat mereka sedang di kelas.

“Itu Mit.. Aku ngerasa ada yang aneh antara Rani sama Bintang.”

“Mereka jadi deket banget?”

“Iya Mit. Padahal kan Rani tahu aku masih cinta sama Bintang. Dia tempat curhatku kalau aku lagi ada masalah sama Bintang. Aku ceritain semuanya sama dia. Tapi, kenapa saat aku udah putus, dia susah banget aku hubungi dan dia jadi nempel sama Bintang. Udah kayak orang pacaran. Aku sakit hati Mit.”

“Sayang, yang sabar ya. Aku punya berita tentang mereka berdua tapi kamu jangan nangis ya”, ucap Mita dengan ekspresi khawatir.

“Apaan?”

“Sekarang mereka selalu berangkat dan pulang bareng.”

“Aku tahu. Aku udah liat. Rasanya mereka berdua pengen aku tabrak. Si Rani itu apa enggak ada rasa simpati? Apa dia enggak punya hati? Aku udah anggap dia sahabat. Aku percaya banget sama dia. Aku aja enggak nyeritain masalahku ke kamu, Cuma ke dia aku ceritain semuanya. Si Rani itu bener-bener....”

“Sssttt....Rani dateng”, kata Mita sambil menunjuk ke arah pintu kelas.

Sarah terhenyak begitu melihat Rani melenggang dengan santainya ke dalam kelas sambil menggulung lengan jaketnya yang kebesaran. Tentu aja kebesaran, karena itu jaket Bintang yang selama ini sering dipinjam oleh Sarah.

Tanpa menengok ke arah Sarah, Rani langsung duduk di depan Sarah dan Mita.

“Ranii..”, panggil Mita.

“Iya, kenapa Mit?”

“Jaket baru ya?”

“Mmm...enggak kok. Ini jaketnya abang”, jawab Rani lirih sambil mengerling ke arahku.

Sontak air mata Sarah mengalir. Entah Rani melihatnya atau tidak, namun Mita yang melihatnya langsung kebingungan karna saat itu dosen sudah memasuki kelas dan pelajaran sudah dimulai.

Tidak hanya sekali Sarah menangis karena kelakuan Rani. Suatu hari, Sarah melihat Rani membawa-bawa sesuatu di tangannya. Itu adalah sebuah tasbih yang Sarah ingat sekali kalau tasbih itu milik Bintang yang kembar dengan miliknya, karena tasbih itu didapat dari souvenir pernikahan saudara Sarah yang Bintang kunjungi.

Hati Sarah mendidih melihatnya. Tasbih itu diputar-putar oleh Rani, dilempar-lempar dan yang terakhir dibuangnya di lantai. Kalau memang Bintang tidak membutuhkan tasbih itu, kenapa tidak dibuang saja? Atau dikembalikan padaku? Kenapa harus dikasih ke Rani? Begitu pikir Sarah.

Sejak saat itu, Sarah tidak pernah lagi menganggap Rani sebagai sahabat. Dia berpikiran, sahabat macam apa yang berdiri tegak di atas penderitaan sahabatnya. Sahabat macam apa yang tertawa-tawa sementara sahabatnya menangis setiap hari?

***

(bersambung)

Sarah (part 5)

Dua hari kemudian, Sarah lagi-lagi marah pada Bintang. Emosi Sarah begitu mudah tersulut dikarenakan beban pikiran yang sulit ia lepaskan.

Malam itu, Sarah curhat pada Bintang mengenai masalah keluarganya melalui sms. Satu sms, dua sms, berjalan dengan lancar. Lalu, sms ketiga tak kunjung dibalas oleh Bintang. Satu menit, dua menit, hingga satu jam tak juga ada balasan dari Bintang.

Sarah bingung dan jengkel. Ia segera berlari keluar rumah untuk membeli pulsa agar bisa menelepon Bintang. Namun sayang, tempat jual pulsa langganan Sarah tutup. Ia kembali berlari ke rumah, mengendap-endap memasuki kamar ibunya dan dengan bisikan lirih di sebelah ibunya yang sedang tertidur, Sarah meminjam handphone ibunya untuk menelepon Bintang.

Sarah semakin marah saat Bintang kembali tertidur setelah ditelepon oleh Sarah. Sarah merasa Bintang benar-benar tidak menghargai dirinya. Malam itu, Sarah terus menelepon Bintang berkali-kali hingga Bintang terbangun. Ia meluapkan segala emosinya pada Bintang. Ia menelepon hingga telinganya panas, tidak perduli apakah Bintang mendengarkan ataukah tertidur lagi.

Sarah sudah tidak perduli. Saat itu, dia hanya ingin didengarkan, dia hanya ingin suara hatinya dapat didengarkan oleh Bintang karena Bintanglah satu-satunya orang yang ia yakini sebagai alasan dia tetap tegar di tengah prahara keluarganya.

Sarah membanting teleponnya setelah dia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada Bintang yang terasa semakin dingin padanya. Sarah tak habis pikir, kemanakah Bintang saat dia butuhkan?

Dia ingat, setiap Sarah sakit, Bintang tak pernah ada untuknya. Saat Sarah sakit typus, tak sekalipun Bintang menjenguknya. Saat Sarah meminta Bintang menemaninya ke dokter karena saat itu dia sendirian di rumah, Bintang terus menundanya hingga akhirnya demam Sarah bertambah tinggi dan dia terpaksa berangkat ke dokter sendirian. Bintang seakan tak pernah ada secara nyata bagi Sarah saat dia dalam keadaan sulit. Bintang tak pernah ada dengan alasan kegiatan di kampusnya yang begitu padat.

Sarah bingung sekali. Di saat Sarah sedang sehat, bebas dari masalah, sesibuk apapun Bintang, dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Sarah bahkan di tengah-tengah rapatnya, tanpa diminta oleh Sarah. Tapi mengapa di saat Sarah benar-benar membutuhkan Bintang untuk menyemangatinya, untuk menemaninya di saat-saat sulit, di saat Sarah sakit, mengapa Bintang tak pernah ada?

Mengingat hal tersebut membuat hati Sarah semakin perih hingga tanpa pikir panjang dia mengirimkan sms pada Bintang untuk memutuskan hubungan. Bintang yang biasanya menentang permintaan putus dari Sarah, kini menyetujuinya. Sarah kembali menangis dan terus menangis hingga ia jatuh tertidur.

***

“Sarah, orang tuamu cerai ya? Kok bisa sih?”

“Iya, kok bisa sih? Wah, jangan-jangan ntar kamu beneran jadi anak pembantu nih.”

“Anak pembantu?”

“Halah, jangan pura-pura gak tau. Kamu kan setiap hari cuma berdua sama pembantumu itu, sampai-sampai ada beberapa teman yang ngatain kamu anak pembantu kan? Sekarang kamu benar-benar jadi anak pembantu. Orang tuamu udah pergi, mereka semua pergi meninggalkan kamu sendirian. Kamu sendirian!!!”

“Enggak!! Aku enggak sendirian. Aku masih punya Bintang. Aku masih punya Bintang.”

“Bintang udah bukan milikmu lagi Sarah. Kamu udah mutusin dia. Sekarang dia milikku. Bintang milikku. Kamu sendirian Sarah. Kamu sendirian!!”

“Sarah, kamu akan hidup sendirian. Tidak ada lagi orang yang sayang padamu. Tidak akan ada lagi Sarah. Semuanya pergi meninggalkan kamu.”

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!!”

Sarah terbangun dari tidurnya, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Enggak. Itu mimpi buruk. Itu hanya mimpi buruk. Aku enggak akan sendirian”, Sarah kembali menangis. Air matanya yang belum kering karena tangis tadi malam kini kembali menetes.

Sarah terduduk di lantai kamarnya sambil mendekap kakinya erat-erat ke dada. Tubuhnya bergetar karena rasa takut dan tangisan. Pelan-pelan, ia menggeser tubuhnya dan tangannya mencari-cari handphone miliknya. Dia tak ingin suara perempuan di mimpinya terbukti benar. Dia tidak ingin sendirian, dia membutuhkan Bintang. Sarah segera mengirimkan sms pada Bintang, memintanya memaafkan Sarah yang telah meminta putus tadi malam. Tapi, Bintang tidak sedikit pun membuka hatinya lagi. Hubungan mereka berakhir.

Air mata Sarah terus menetes, membasahi lantai kamarnya. Dia merasa bodoh karena telah membuang Bintang, padahal Bintanglah satu-satunya alasan ia mencoba tegar. Sarah ingat beberapa minggu lalu dia pernah berkata pada Bintang bahwa dia berjanji tidak akan minta putus dari Bintang. Karena tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi mereka untuk putus.

Sarah merasa hancur. Mimpinya terasa begitu menyesakkan di dada dan kini dia menghadapi kenyataan Bintang telah meninggalkannya.

Akankah seluruh mimpinya akan menjadi kenyataan? Akankah orang tua Sarah benar-benar bercerai? Akankah Bintang segera menemukan pengganti Sarah dan melupakan Sarah begitu saja?

Sarah (part 5)

Dua hari kemudian, Sarah lagi-lagi marah pada Bintang. Emosi Sarah begitu mudah tersulut dikarenakan beban pikiran yang sulit ia lepaskan.

Malam itu, Sarah curhat pada Bintang mengenai masalah keluarganya melalui sms. Satu sms, dua sms, berjalan dengan lancar. Lalu, sms ketiga tak kunjung dibalas oleh Bintang. Satu menit, dua menit, hingga satu jam tak juga ada balasan dari Bintang.

Sarah bingung dan jengkel. Ia segera berlari keluar rumah untuk membeli pulsa agar bisa menelepon Bintang. Namun sayang, tempat jual pulsa langganan Sarah tutup. Ia kembali berlari ke rumah, mengendap-endap memasuki kamar ibunya dan dengan bisikan lirih di sebelah ibunya yang sedang tertidur, Sarah meminjam handphone ibunya untuk menelepon Bintang.

Sarah semakin marah saat Bintang kembali tertidur setelah ditelepon oleh Sarah. Sarah merasa Bintang benar-benar tidak menghargai dirinya. Malam itu, Sarah terus menelepon Bintang berkali-kali hingga Bintang terbangun. Ia meluapkan segala emosinya pada Bintang. Ia menelepon hingga telinganya panas, tidak perduli apakah Bintang mendengarkan ataukah tertidur lagi.

Sarah sudah tidak perduli. Saat itu, dia hanya ingin didengarkan, dia hanya ingin suara hatinya dapat didengarkan oleh Bintang karena Bintanglah satu-satunya orang yang ia yakini sebagai alasan dia tetap tegar di tengah prahara keluarganya.

Sarah membanting teleponnya setelah dia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada Bintang yang terasa semakin dingin padanya. Sarah tak habis pikir, kemanakah Bintang saat dia butuhkan?

Dia ingat, setiap Sarah sakit, Bintang tak pernah ada untuknya. Saat Sarah sakit typus, tak sekalipun Bintang menjenguknya. Saat Sarah meminta Bintang menemaninya ke dokter karena saat itu dia sendirian di rumah, Bintang terus menundanya hingga akhirnya demam Sarah bertambah tinggi dan dia terpaksa berangkat ke dokter sendirian. Bintang seakan tak pernah ada secara nyata bagi Sarah saat dia dalam keadaan sulit. Bintang tak pernah ada dengan alasan kegiatan di kampusnya yang begitu padat.

Sarah bingung sekali. Di saat Sarah sedang sehat, bebas dari masalah, sesibuk apapun Bintang, dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Sarah bahkan di tengah-tengah rapatnya, tanpa diminta oleh Sarah. Tapi mengapa di saat Sarah benar-benar membutuhkan Bintang untuk menyemangatinya, untuk menemaninya di saat-saat sulit, di saat Sarah sakit, mengapa Bintang tak pernah ada?

Mengingat hal tersebut membuat hati Sarah semakin perih hingga tanpa pikir panjang dia mengirimkan sms pada Bintang untuk memutuskan hubungan. Bintang yang biasanya menentang permintaan putus dari Sarah, kini menyetujuinya. Sarah kembali menangis dan terus menangis hingga ia jatuh tertidur.

***

“Sarah, orang tuamu cerai ya? Kok bisa sih?”

“Iya, kok bisa sih? Wah, jangan-jangan ntar kamu beneran jadi anak pembantu nih.”

“Anak pembantu?”

“Halah, jangan pura-pura gak tau. Kamu kan setiap hari cuma berdua sama pembantumu itu, sampai-sampai ada beberapa teman yang ngatain kamu anak pembantu kan? Sekarang kamu benar-benar jadi anak pembantu. Orang tuamu udah pergi, mereka semua pergi meninggalkan kamu sendirian. Kamu sendirian!!!”

“Enggak!! Aku enggak sendirian. Aku masih punya Bintang. Aku masih punya Bintang.”

“Bintang udah bukan milikmu lagi Sarah. Kamu udah mutusin dia. Sekarang dia milikku. Bintang milikku. Kamu sendirian Sarah. Kamu sendirian!!”

“Sarah, kamu akan hidup sendirian. Tidak ada lagi orang yang sayang padamu. Tidak akan ada lagi Sarah. Semuanya pergi meninggalkan kamu.”

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!!”

Sarah terbangun dari tidurnya, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Enggak. Itu mimpi buruk. Itu hanya mimpi buruk. Aku enggak akan sendirian”, Sarah kembali menangis. Air matanya yang belum kering karena tangis tadi malam kini kembali menetes.

Sarah terduduk di lantai kamarnya sambil mendekap kakinya erat-erat ke dada. Tubuhnya bergetar karena rasa takut dan tangisan. Pelan-pelan, ia menggeser tubuhnya dan tangannya mencari-cari handphone miliknya. Dia tak ingin suara perempuan di mimpinya terbukti benar. Dia tidak ingin sendirian, dia membutuhkan Bintang. Sarah segera mengirimkan sms pada Bintang, memintanya memaafkan Sarah yang telah meminta putus tadi malam. Tapi, Bintang tidak sedikit pun membuka hatinya lagi. Hubungan mereka berakhir.

Air mata Sarah terus menetes, membasahi lantai kamarnya. Dia merasa bodoh karena telah membuang Bintang, padahal Bintanglah satu-satunya alasan ia mencoba tegar. Sarah ingat beberapa minggu lalu dia pernah berkata pada Bintang bahwa dia berjanji tidak akan minta putus dari Bintang. Karena tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi mereka untuk putus.

Sarah merasa hancur. Mimpinya terasa begitu menyesakkan di dada dan kini dia menghadapi kenyataan Bintang telah meninggalkannya.

Akankah seluruh mimpinya akan menjadi kenyataan? Akankah orang tua Sarah benar-benar bercerai? Akankah Bintang segera menemukan pengganti Sarah dan melupakan Sarah begitu saja?

Sarah (part 4)

Empat bulan berlalu, hubungan cinta kasih Sarah dan Bintang berjalan bukan tanpa hambatan. Hubungan mereka tidak pernah damai, selalu ada kemarahan, kecemburuan dan tangisan.
Sehari setelah perayaan ulang tahun Bintang, mereka bertengkar hebat di depan rumah Sarah. Sarah bersikeras minta putus dan seperti biasa Bintang hanya terdiam, menunduk serta sesekali menggumamkan permintaan maaf.
Sarah berada dalam puncak emosinya saat itu. Dia sangat kecewa pada Bintang yang tidak bisa memberikan perhatian bagi Sarah yang saat itu keluarganya sedang diguncang masalah besar. Bila bagi Bintang masalah perceraian orang tua bukan hal besar atau dia merasa hal itu sudah sering dia dengar dari sekian banyak mantan pacarnya, hal itu tidak berlaku bagi Sarah.
Keluarga Sarah memang tidak sempurna. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ayah Sarah dipindahkan kerja ke Jakarta. Sudah tujuh tahun pula Sarah jarang bertemu ayahnya, hanya seminggu sekali ia bertemu beliau. Itupun bila beliau tidak sedang tugas ke luar kota sehingga bisa pulang ke rumah bertemu dengan Sarah dan istrinya.
Tidak hanya ayah Sarah, ibu Sarah pun begitu. Pekerjaannya menuntutnya sering bepergian ke luar kota selama berbulan-bulan. Sabtu dan minggu adalah waktu berharga bagi mereka bertiga untuk berkumpul. Tapi, ayah dan ibu Sarah sering bertengkar saat mereka bertemu di rumah. Terkadang hanya karena hal sepele, mampu menyulut emosi mereka berdua. Perbedaan prinsip di antara begitu besar namun tidak mengurangi cinta di antara mereka.
Perceraian diucapkan dari bibir ibu Sarah. Pertengkaran yang begitu menyesakkan membuatnya menyerah pada keadaan dan beranggapan semuanya akan menjadi lebih baik dengan perceraian. Beliau berkata hal ini tidak akan merubah apapun bagi Sarah. Semuanya akan tetap sama. Sudah tujuh tahun Sarah tidak tinggal serumah dengan ayahnya karena pekerjaan beliau, bila itu berlanjut untuk selamanya karena perceraian, ibu Sarah berpikir semuanya tetap sama saja. Beliau berkata kasih sayang mereka untuk Sarah tidak akan pernah berubah.
Sarah hanya mampu tersenyum dan menghibur ibu Sarah, mengatakan padanya Sarah akan mendukung keputusan mereka, apapun itu. Sarah yakin pada mereka. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Sarah takut dia akan semakin kesepian. Tanpa saudara yang menemani di rumah, sudah cukup sunyi baginya. Bagaimana bila ditambah dengan tiadanya salah satu orang tuanya?
Di saat itulah Sarah membutuhkan pengertian dan perhatian Bintang. Sarahlah yang selalu menghibur ibunya, menguatkan ibunya dan kini dia membutuhkan seseorang untuk menguatkan dirinya sendiri. Dia membutuhkan Bintang untuk menghiburnya dan menguatkannya, dengan begitu Sarah akan terus mampu berpura-pura tersenyum di hadapan kedua orang tuanya. Tak bisakah Bintang mengerti hal itu? Kenapa yang terucap dari bibirnya adalah nama perempuan lain?
Bintang akhirnya mengalah setelah perdebatan panjang dengan Sarah. Dia menerima kalau Sarah ingin putus. Hanya saja, dia berharap mereka tetap mampu berteman walaupun telah putus.
“Kalau memang itu yang kamu mau, aku ngerti. Aku emang salah. Aku enggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Tapi, aku mau kita tetap berteman walaupun kita udah putus”, ucap Bintang.
“Enggak bisa. Aku enggak bisa”, ujar Sarah dengan tegas.
“Kenapa?”
“Karena aku begitu mencintaimu sehingga aku tidak bisa menganggapmu hanya sebagai teman biasa. Aku tidak bisa menerima kalau kamu begitu dekat denganku tapi kita sebenarnya terpisah”, jawab Sarah dalam hati.
“Kalau emang itu pun kamu enggak bisa, enggak apa-apa, aku terima. Tapi, kamu perlu tahu kalau aku sayang banget sama kamu. Walaupun kita udah putus, enggak akan merubah perasaanku ke kamu. Cuma kamu cewek yang aku cintai, cuma kamu satu-satunya. Aku akan terus jaga perasaanku ke kamu walau itu berarti aku enggak akan jalin hubungan dengan cewek lain. Aku berjanji sama kamu”, ucap Bintang pada Sarah.
Sarah hanya terdiam. Kaget mendengar Bintang berkata seperti itu. Sungguh, dalam hatinya Sarah bergembira mendengar ucapan Bintang yang begitu hangat. Tapi, Sarah tak mampu berkata-kata dengan lebih indah lagi.
Yang mampu Sarah ucapkan hanyalah..
“Kalau kamu enggak jalin hubungan sama cewek lain, berarti kamu enggak akan nikah?”, tanya Sarah.
“Iya.”
“Tang, kamu enggak boleh kayak gitu. Menikah itu sunnah Rasulullah, kamu enggak boleh ngomong sembarangan kayak gitu lagi. Ngerti?!!”
“Iya, oke kalau gitu. Tapi, aku tetap akan sayang sama kamu. Aku pulang dulu ya”, Bintang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju pagar rumah Sarah. Perlahan dia membuka pagar, berjalan ke luar dan menutup pagar itu kembali. Sambil berdiri di depan pagar, dia tatap Sarah yang masih duduk di teras rumahnya.
Tangisan Sarah semakin kencang dan tak terkendali. Dia tahu inilah yang dia inginkan tapi saat dia harus menghadapi kenyataan Bintang benar-benar pergi darinya, rasanya hatinya seperti dipukul oleh sesuatu yang sangat berat. Dia menangis hingga matanya memerah dan bahunya berguncang hebat.
Bintang bergegas kembali dan memeluk Sarah. Menenangkannya agar tidak menangis lagi. Di saat itulah pertahanan Sarah runtuh, dia tarik kembali kata-katanya. Dia mau Bintang kembali menemaninya dan tidak putus. Menurut Sarah, hal tu akan menjadi hal konyol terakhir yang akan dia lakukan. Tidak akan lagi permintaan putus. Tidak akan pernah. Tapi, keesokan harinya keadaan mulai berubah.
***
Tidak seperti biasanya, Bintang segera bergegas keluar kelas tanpa menunggu Sarah. Saat Sarah mengirimkan sms padanya, Bintang meminta untuk menyusulnya. Padahal biasanya, Bintanglah yang menjemputnya.
Sarah merasa aneh tentang kelakuan Bintang saat itu. Jujur saja, kejadian kemarin sudah dilupakan sepenuhnya oleh Sarah. Semua kesalahan Bintang sudah ia lupakan dan maafkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencoba lebih mengerti Bintang. Sarah tidak akan menuntut Bintang untuk memberikan perhatian yang sempurna untuknya.
Sarah memperhatikan hari itu Bintang tertawa seperti biasa, bercanda dengan teman-temannya seperti biasa. Tapi, Sarah tetap merasakan ada suatu hal yang aneh. Akhirnya Sarah memuutuskan untuk menguji Bintang.
Sarah merengek pada Bintang untuk diantarkan pulang karena ternyata hari itu dia tidak dijemput karena mobilnya akan dipakai oleh ayah Sarah. Padahal, tak sedikit pun ayah Sarah berencana menggunakan mobil Sarah. Sarah melihat Bintang agak bimbang untuk mengantarkan Sarah hingga akhirnya Biintang memutuskan untuk mengantarkan Sarah, namuan terlebih dahulu mereka harus berjalan kaki pulang ke kos Bintang untuk mengambil motor.
Sarah yang sekalipun belum pernah berjalan kaki pulang, mengiyakan ajakan Bintang dengan semangat. Tapi, lima menit kemudian Sarah mengeluh panas, capek dan lain sebagainya. Bintang terus bercanda sepanjang jalan, mungkin agar Sarah tidak terus-terusan mengeluh. Itu berhasil. Sarah tidak mengeluh, dia tertawa karena lelucon Bintang. Tapi karna tertawa, dia semakin merasa lelah. Setiap Sarah kelelahan, jantungnya akan berdebar cepat dan membuatnnya sesak napas. Sarah yang sudah mulai merasa sesak napas, menyembunyikan hal itu dari Bintang. Dia tetap terus mencoba tertawa.
Walaupun hari itu mereka berdua pulang dengan riang gembira, di dalam hati kecilnya, Sarah tetap merasa ada yang berubah dari Bintang. Ya, Bintang sudah berubah. Ada yang lain dari dirinya. Mendadak Bintang terasa dingin dan jauh.
***
(BERSAMBUNG)

Sarah (part 3)

Cinta itu datang perlahan. Membelai lembut hati Sarah dan membuatnya seakan terbang melayang.

Perangai Bintang yang lembut, penuh perhatian dan penuh cinta, membuat hati Sarah makin terpikat. Sarah mencintainya, Sarah sangat takut kehilangan Bintang sehingga dia menjadi seorang yang pencemburu.

Sarah tahu Bintang masih sangat dekat dengan mantan kekasihnya. Mungkin Bintang tidak sadar, tapi Sarah sering menanyakan pada Bintang tentang mantan-mantan pacarnya. Sarah berkilah, itu hanya agar dia lebih mengerti tentang Bintang.

Sarah bertanya pada Bintang, siapa mantannya yang paling cantik, siapa yang paling pintar, dan masih banyak lagi. Saat Sarah bertanya tentang mantan pacar Bintang sebelum Sarah, Bintang menjawab kalau dia adalah cewek yang cantik, modis, pintar. Pintar menggambar, pintar berbagai macam bahasa. Di depan Bintang, Sarah mencoba tersenyum tapi di hatinya seperti diiris-iris. Apalagi saat Bintang bilang kalau cewek itu adalah mantan pacarnya yang paling dia sayang. Sarah menangis saat itu juga. Memang hanya satu tetes air mata yang berani dia keluarkan sebelum dia usap air matanya dan dia tahan isak tangisnya. Tanpa Bintang tahu, di belakangnya Sarah menangis menahan hatinya yang terasa perih atas kejujuran Bintang. Sarah merasa iri pada cewek itu. Sarah merasa dirinya tidak cantik, tidak modis dan tidak pintar. Sarah hanya cewek yang biasa-biasa saja, tidak punya banyak kelebihan tapi punya banyak kekurangan. Bagaimana dia bisa bersaing dengan cewek yang sesempurna itu?

Setiap Sarah melihat facebook Bintang dan Sarah memergoki mereka berdua saling mengomentari status masing-masing, Sarah kembali menangis. Sarah takut dia hanya pelarian Bintang untuk melupakan mantan pacarnya itu. Hati Sarah semakin sakit saat dia tahu tugas dari kampus milik Bintang ternyata dibuatkan oleh mantan pacarnya itu. Sarah tahu dia tidak pintar tapi kenapa harus cewek itu? Kenapa bukan orang lain? Kenapa cewek itu terus aja dekat dengan Bintang? Tak tahukah dia bagaimana kalau dia yang menjadi Sarah? Tak tahukah dia sekarang Bintang sudah memiliki Sarah? Tak tahukah dia Sarah sakit hati dengan kelakuannya?

Sarah tak ingin terus menumpuk rasa cemburunya, maka dia memutuskan untuk sementara ini tidak membuka facebooknya dulu, agar dia tidak tergoda melihat facebook Bintang. Bahkan saat Bintang memberitahukan pasword facebook miliknya, Sarah satu kalipun tidak pernah membukanya. Sarah tidak ingin melihat dan membaca sedikit pun tentang mereka berdua. Biarlah yang ia tahu hanyalah Bintang adalah pacarnya dan Bintang mencintainya. Hanya itu yang dia butuhkan. Tidak ada yang lain.

Namun ternyata itu semua tidak berakhir. Semua dimulai dengan sebuah sms salah kirim dari Bintang. Isinya, Bintang menanyakan apakah si penerima sms masih seriing memasak. Sarah yang mengira sms itu ditujukan untuknya, langsung dengan semangat membalas sms itu. Sarah kaget ternyata Bintang tahu Sarah suka memasak. Tapi ternyata, balasan sms dari Bintang benar-benar mengecewakan. Dalam smsnya itu, Bintang meminta maaf bahwa sebenarnya sms itu bukan untuk Sarah tapi untuk Kiky, temannya di Makassar. Itu kesalahan pertama.

Kesalahan kedua saat Sarah tahu Ran adalah nama panggilan untuk mantan pacar Bintang. Padahal saat pertama kali pacaran, Bintang pernah meminta Sarah agar mau dipanggil Ran.

Kesalahan ketiga, saat Bintang salah memanggil nama Sarah dengan nama “Ran”. Dan kejadian itu tidak hanya sekali terjadi.

Kesalahan keempat, saat Bintang menunjukkan foto mantan pacarnya dan mengatakan kalau mantan pacarnya itu sangat mirip dengan Sarah.

Kesalahan kelima, saat Sarah sedang marah pada Bintang karena Bintang tidak mau menelepon Sarah. Padahal saat itu Sarah sedang mengalami masalah berat. Orang tua Sarah mau bercerai. Hari itu pertama kalinya Sarah tahu tentang hal itu dan itu juga hari ulang tahun Bintang. Seharian Sarah mencoba melupakan masalah keluarganya dengan berkonsentrasi membuatkan cake ulang tahun untuk Bintang karena malam sebelumnya Sarah tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Bintang disebabkan masalah keluarganya. Walaupun akhirnya ibu Sarah membantunya dengan menghiaskan cake itu, namun Sarah benar-benar berjuang keras agar bisa mempersembahkan cake itu untuk Bintang.

Sarah bisa maklum kalau Bintang tidak mau menelepon karena tidak punya pulsa tapi kenapa Bintang juga tidak mau ditelepon oleh Sarah? Sarah hanya ingin dia didengar oleh Bintang. Sarah hanya butuh teman untuk menguatkannya, meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja walau orang tuanya bercerai. Sarah takut sendirian, Sarah takut kesepian. Tidak tahukah Bintang tentang hal itu? Kenapa Bintang menolaknya? Ternyata saat itu Bintang sedang smsan dengan mantan pacarnya yang disebutnya Ran. Sarah tahu hal itu karena Bintang salah memanggilnya dengan nama Ran.

Sarah sangat mencintai Bintang, Sarah mencintainya dengan seluruh hati dan pikirannya tapi Sarah tidak tahu kenapa dia sering meminta putus dari Bintang. Dia tahu dia tidak sanggup putus dari Bintang, dia tetap berkeras hati ingin putus. Setiap itu terjadi, Bintang memohon padanya dengan lembut agar Sarah memaafkannya. Dan setiap itu terjadi, Sarah selalu menerimanya kembali. Lalu, Bintang akan memeluknya dan mengecup dahinya sambil mengatakan bahwa ia mencintai Sarah.

Sarah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bintang benar-benar mencintai dirinya, hanya dirinya. Tapi, mengapa hal itu begitu susah? Apakah Bintang sudah berubah?

Sarah (part 2)

“Kamu darimana aja sih? Janjinya mau dateng jam setengah 4, kamu nyatanya sekarang nyampe rumahku jam 5. Ngapain aja sih?”, tanya Sarah pada Bintang dengan berapi-api.

“Maaf yank, aku udah berusaha datang tepat waktu. Tadi aku ke stasiun dulu sama Frans, aku mau beli tiket.”

“Kalau mau ke stasiun, ngapain bikin janji segala?”

“Aku mau ngajakin kamu nonton New Moon yank, tapi filmnya udah mulai dari jam setengah lima tadi. Gimana? Kamu masih mau nonton gak?”, ujar Bintang sambil menyodorkan dua tiket bioskop pada Sarah.

“Gak ah, udah telat setengah jam. Perjalanan dari rumahku ke bioskop itu setengah jam, berarti kita bakalan telat satu jam. Mau dapat apaan coba? Udahlah, gak jadi pergi aja”, lalu Sarah segera berjalan masuk ke rumahnya diikuti Bintang yang tertunduk lesu.

“Maaf yank, aku tadi udah bener-bener berusaha untuk datang tepat waktu. Tapi, aku harus ngehindarin Frans dulu, aku enggak mau dia tau aku ngajak kamu pergi. Aku belum bisa ngasih tau dia tentang kita.”

“Terserah!!”, kata Sarah sambil melemparkan tiket bioskop itu ke lantai.

“Jangan dibuang dong yank. Maaf yank, kamu marah ya sama aku? Aku juga enggak tahu kenapa aku selalu begini. Aku selalu berusaha untuk datang tepat waktu tapi selalu aja ada hambatannya. Please yank, jangan marah lagi. Aku bener-bener minta maaf.”

Sarah mengangguk sambil mencoba tersenyum. Lalu, dipungutnya lagi tiket bioskop yang tadi dibuang olehnya. Dia berkata pada Bintang bahwa dia kali ini bisa memaafkan Bintang tapi kalau lain kali Bintang telat janjian lagi seperti ini, Sarah akan benar-benar marah.

Sarah memang bukan gadis yang penyabar. Emosinya labil, emosinya mudah meledak-ledak. Dia sangat tidak menyukai menunggu dan dia sangat membenci orang yang mengingkari janji. Dia sebenarnya kaget dan senang melihat Bintang membawakan tiket bioskop itu. Dia tahu mendapatkan tiket New Moon saat ini benar-benar susah, karena film itu baru saja diputar. Tentu yang mengantri sangat banyak, pasti Bintang sudah bersusah-payah untuk mendapatkan tiket itu. Tiba-tiba Sarah merasa bersalah tadi sudah melempar tiket tersebut di depan Bintang dan sebenarnya dia tetap ingin menonton film itu. Tapi Sarah tidak ingin memperlihatkan perasaannya itu, biarlah Bintang menganggapnya marah, agar di lain waktu Bintang lebih bisa menghargai waktu dan mampu menepati janji yang dibuatnya sendiri. Sarah ingin Bintang merubah kebiasaan buruknya yang menyepelekan waktu dan janji.

Namun, ternyata Bintang tetap saja belum berubah.

“Tang, kamu dimana?”, tanya Sarah melalui telepon.

“Aku masih di kampus yank. Tunggu, bentar lagi aku jemput.”

“Oke. Aku tunggu. Cepetan!”

Lima menit berlalu, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam terus bergulir tanpa tanda-tanda kehadiran Bintang. Sarah mulai tidak sabar.

“Bintang!! Kamu dimana? Lupa ya mau jemput aku?”

“Bentar yank. Maaf, aku enggak lupa kok. Ini Frans belum datang, jadi aku yang harus ngegantiin dia membuka rapat.”

“Kenapa harus kamu? Emangnya enggak ada orang lain selain kamu?”

“Enggak ada yang mau yank. Tunggu bentar lagi ya yank”, pinta Bintang dengan suaranya yang lembut.

“Yaudah iya iya. Awas kalo lama!!”

Sarah kembali menunggu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, satu jam terus berlalu. Sarah sudah hilang kesabaran. Dia sambar handphonenya dan lagi-lagi menelepon Bintang.

“Udahlah, kalau emang enggak bisa jemput, aku enggak usah dijemput. Aku enggak datang.”

“Yank, ini aku jemput sekarang ya. Kamu datang aja ya. Kamu kan udah siap-siap, masa enggak datang?”

“Iya, udah siap-siap dari dua jam yang lalu. Aku nungguin sampe lumutan.”

“Maaf yank, ini aku udah di jalan ke rumahmu. Kamu tunggu sebentar lagi.”

“Ya udahlah, terserah!!”

Saat Bintang sampai di rumah Sarah, Sarah hanya diam dan cemberut saja. Bahkan saat Bintang menggoda Sarah, Sarah hanya mendelik ke arah Bintang dan berjalan menuju motor Bintang. Selama di perjalanan pun Sarah hanya diam. Bintang berusaha meminta maaf tapi Sarah hanya memandang ke jalan dengan tatapan kosong. Sarah sadar saat Bintang mengubah arah spionnya agar bisa melihat dia yang membonceng di belakang tapi Sarah pura-pura tak perduli. Dia lebih memilih diam untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia saat ini sedang dalam keadaan sangat marah dan dia ingin meredam emosinya dulu dengan berdiam diri. Sarah tidak ingin marah-marah pada Bintang, dia tahu kalau dia meladeni Bintang saat ini, dia akan semakin emosi.

Sarah kecewa pada Bintang yang masih saja menyepelekan janji. Apa karena hanya janji pada Sarah jadi Bintang menganggap itu bukan hal besar? Terus kenapa selalu karena Frans. Kemarin telat karena menjaga perasaan Frans, sekarang telat karena menggantikan Frans. Sebenarnya siapa sih pacarnya Bintang? Aku atau Frans? Begitu pikir Sarah.

Sarah tahu bahwa Frans adalah teman pertama Bintang di sini. Bintang memberitahu Sarah bahwa Frans adalah sahabatnya. Saat Bintang tahu Frans juga menyukai Sarah, Bintang mengalah. Dia mencoba mendekatkan Sarah pada Frans. Namun, Sarah selalu menolak. Frans pun hanya berdiam diri, tidak sedikit pun memperlihatkan bahwa ia menyukai Sarah. Akhirnya Bintang nekad mendekati Sarah. Baru akhir-akhir ini Bintang menjelaskan hal ini pada Frans. Sarah yang memintanya karena Sarah tak mau dia merusak persahabatan Frans dan Bintang. Dan Sarah sudah tidak mau lagi berpacaran diam-diam. Sarah tak mau lagi harus menunggu semua teman-teman sekelasnya pulang agar dia bisa pulang diantarkan oleh Bintang. Sarah tak mau lagi Bintang mengarang cerita di depan Frans tentang cewek yang sedang didekati Bintang. Sarah ingin Bintang menceritakan tentang dirinya dengan menyebut nama aslinya, bukan nama orang lain. Sarah ingin diakui oleh Bintang. Sarah ingin hubungannya dengan Bintang dapat direstui oleh semua orang.

***

(bersambung)

Without Words

I shouldnt have done that,

I should have pretend not to know

Like I didnt see it, like I couldnt see it

I shouldnt have looked at you in the first place

I should have run away

I should have pretended I wasnt listening

Like I didnt hear it, like I couldnt hear it

I shouldnt have heard your love in the first place

Without a word you made me know love

Without a word you gave me love

Because you took a just a breath and ran away like this

Without a word love leaves me

Without a word love abandons me

Wondering what to say next, my lips were surprised

Because it came without a word.

(Without Words – Park Shin Hye)

Ketika aku jatuh cinta, hal-hal yang aku lakukan terasa berbeda dengan diriku yang sebelumnya. Semarah apapun aku terhadapnya, rasa cintaku padanya malah bertambah, jantungku tetap berdetak cepat ketika melihatnya. Namun dia tak pernah tahu, karena jantungku tersembunyi dengan rapi. Dan aku tidak menginginkan dia tahu.

Ketika aku jatuh cinta, memandang wajahnya saja membuat hatiku terasa hangat. Di saat aku merasa kesepian, aku buka album fotoku berdua dengannya, dan rasa kesepian sedikit demi sedikit terusir olehnya. Dia tidak tampan, bahkan teman-temanku bilang dia jauh dari definisi tampan. Tapi, aku tidak peduli. Aku mencintai dia, apa yang ada di dalam dirinya, bukan wajahnya.

Ketika aku jatuh cinta, mencium wangi parfumnya membuatku merasa tenang dan nyaman. Parfumnya hanyalah parfum yang mudah didapat di supermarket-supermarket. Tapi, tetap saja aku menyukainya.

Aku mencintainya.

Namun, ketika dia meninggalkanku, setiap melihat wajahnya memantik amarah di dalam hatiku. Setiap melihat wajahnya, membuat hatiku gelisah dan tidak tenang.

Ketika dia meninggalkanku, setiap kudengar suaranya membuatku ingin menangis. Setiap mendengar suaranya, aku ingin menutup telingaku rapat-rapat, menyumpalnya rapat-rapat hingga tak sedikit pun suaranya dapat terdengar.

Ketika dia meninggalkanku, setiap aku mencium bau parfumnya, aku merasa ingin mengurung diri di dalam kamar dan berteriak keras-keras. Setiap mencium bau parfumnya, ingin rasanya aku membenamkan kepalaku ke dalam air hingga hidungku tak mampu berfungsi.

Namun, ketika dia meninggalkanku, di setiap kesepian melanda diriku mengingat kenangan bersamanya mampu menguatkan aku. Di setiap kesepian membuatku merasa sedih, mengingat wajahnya membuatku tersenyum. Di setiap aku kesepian, aku sadar aku tak mampu membencinya dan aku tak mampu melupakannya. Tapi, aku yakin aku mampu menemukan kebahagiaanku tanpanya.

Without a word you made me know love

Without a word you gave me love

Because you took a just a breath and ran away like this

Without a word love leaves me

Without a word love abandons me

Wondering what to say next, my lips were surprised

Because it came without a word.

Fantasy or Real Life?



Apakah ini kehidupan nyata atau hanya sebuah fantasi belaka?

Salah seorang temanku berkata life is fantasy that becomes real. Is it true?


Jika kehidupan ini adalah perwujudan fantasi kita, mengapa terasa begitu menyesakkan dada?

Fantasi? Apa itu fantasi?

Aku mengenal fantasi dari buku-buku dongeng. Cerita tentang putri raja, raksasa dan pangeran tampan. And of course happily ever after. Is that really exist?

Fantasi setiap remaja perempuan di dunia mungkin sama, yaitu menikah dengan laki-laki yang mencintainya dengan sepenuh hati dan bahagia selama-lamanya. Like the fairy tales told us.

Tapi, tahukah kalian bahwa tidak ada jalan keluar dari kenyataan. Kita tidak dapat merubah kenyataan yang ada. Kita tidak bisa memaksakan hidup kita harus sesuai dengan apa yang kita inginkan karena kenyataan yang ada terkadang melenceng jauh dari yang kita perkirakan. Manusia hanya mampu berikhtiar dan Tuhanlah yang menentukan takdir kita.

Seperti yang band Queen nyanyikan melalui lagunya bohemian rhapsody

Is this the real life?
Is this just fantasy?
Caught in a landslide
No escape from reality
Open your eyes
Look up to the skies and see

Jika hidup mulai terasa berat, bukalah mata kalian, rasakan kehidupan di sekelilingmu, maka kau akan menemukan nikmat Tuhan yang mungkin tak kau sadari.

Dan di saat hatiku terasa sesak dan air mata mulai mengalir, ada satu hal yang aku lakukan.

So I lay my head back down. And I lift my hands and pray.

Surat Terakhir (part 2)

Kalian sungguh tak terpisahkan, dimana ada dirimu di situ pula ada dia, begitu pun sebaliknya. Hal itu membuat kita jauh. Hubungan kita merenggang, aku merasa risih berada di dekatmu saat kau sedang bersamanya. Aku pun mulai menjauhimu, kau sibuk dengan dunia barumu bersama Indra sehingga tidak menyadari aku menjauh. Di dalam hatiku seperti terdapat lubang yang menganga lebar tanpa adanya dirimu di sampingku, sahabat. Namun, aku abaikan perasaan itu karena aku beranggapan kau sudah tak butuh aku.

Aku menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan. Aku ikut berbagai macam les, aku ikut berbagai macam ekstrakurikuler di sekolah. Aku mulai mendekatkan diri dengan teman-teman yang lain, hingga akhirnya aku benar-benar melupakanmu. Maaf, saat itu tak sedikit pun aku mengingatmu sebagai sahabatku.

Aku benar-benar melupakanmu dan hal itu membuatku tidak tahu bahwa kau mengalami masalah. Aku tidak tahu bahwa ayahmu dipecat dari pekerjaannya, aku bahkan tidak menghadiri saat ibumu dimakamkan. Saat aku tahu itu semua, sudah terlambat. Aku tidak dapat menemukanmu, yang aku temui hanyalah ayahmu yang kurus kering bagaikan ranting kering di musim gugur. Beliau letih membanting tulang demi menghidupi adik-adikmu. Kau dimana??

Begitu panjang jalan yang aku tempuh untuk bisa menemukanmu. Tapi saat menemukanmu, aku justru berharap itu bukanlah dirimu. Jujur, saat pertama kali menemukanmu, aku merasakan jijik yang teramat sangat. Aku jijik melihatmu masuk ke dalam dunia yang tidak pernah aku bayangkan. Aku jijik melihatmu menjajakan dirimu kepada lelaki hidung belang di luar sana.

Aku berusaha menguatkan diriku untuk kembali mendekatimu. Aku berusaha menguatkan hatiku agar aku berani membawamu kembali pulang ke pangkuan keluargamu dan memperbaiki dirimu. Namun, kau menolakku mentah-mentah. Kau berpura-pura tidak mengenalku. Kau memakiku, kau mendorongku menjauh, bahkan kau menyuruh salah seorang temanmu mengusirku. Memang saat itu aku pergi, tapi aku pergi untuk mencari informasi lebih banyak tentang dirimu. Aku dekati beberapa penjaga warung di dekat tempatmu tinggal. Aku butuh beberapa hari untuk mengumpulkan semua informasi tentang apa saja yang kau lakukan di sana.

Aku semakin kaget karena ternyata kau tidak hanya berperan sebagai pelacur, kau juga menggunakan dan mengedarkan obat-obatan terlarang. Kau sudah jatuh terlalu dalam sahabatku, tapi aku masih berharap aku mampu membawamu pulang.

Aku menggunakan berbagai cara untuk membujukmu. Aku membawa ayahmu ke tempatmu bekerja, bahkan aku membayarmu untuk sekedar menemaniku ngobrol. Aku mengingatkan padamu pengalaman persahabatan kita, aku ceritakan padamu keadaan keluargamu. Namun, tak sedikit pun kau tergerak. Kau terus-terusan menolakku. Bahkan kau memalingkan wajahmu saat ayahmu kembali datang sambil terbatuk-batuk. Beliau merapatkan kedua tangannya di dada untuk menahan dingin, namun kau hanya tertawa dan membanting pintu di depan wajah ayahmu.

Aku sudah tidak memiliki cara lagi bagaimana membuatmu mengerti, bagaimana membuatmu kembali di tengah-tengah kami. Kamu begitu jauh dan semakin jauh. Hingga akhirnya aku memutuskan memberitahukan pihak kepolisian bahwa kau adalah salah satu pengedar narkoba. Hal ini aku lakukan dengan harapan selama kau di dalam penjara, kau mendapatkan hidayah Tuhan dan akhirnya kau memutuskan untuk kembali ke jalanNya.

Itulah alasan dan harapanku yang begitu besar untukmu, sahabatku. Aku mohon mengertilah dan maafkanlah aku.

Semarang, 7 September 2010-09-10

Sasmita

***

Hari ini aku akan mengeposkan suratku ini untukmu. Semoga kau dapat menerima surat ini dan memahami maksud hatiku. Aku akan mengantarkannya dengan adik bungsumu, Yosi.

“Mbak mitaaa, awaaaas!!!!!!”

Hal terakhir yang aku lihat adalah wajah ketakutan adikmu, kugenggam erat-erat suratku untukmu, lalu gelap. Semuanya gelap gulita. Tidak hanya gelap, tapi juga dingin, dingin yang menusuk-nusuk tulangku.

***

”Ayah, Yosi merasa bersalah pada mbak Mita. Kakak tidak akan pernah membaca surat dari mbak Mita yang sudah ditulisnya dengan susah payah.”

“Itu sudah takdir Mita, nak. Relakanlah kepergian Mita agar dia tenang di alam sana. Mungkin di sana dia dan kakakmu akan bertemu dan mulai menjalin persahabatannya lagi dari awal”, ujar Ayah Yosi sambil meletakkan koran yang sedari tadi ia genggam dengan erat.

Headline koran tersebut adalah berita kebakaran yang menimpa penjara tempat kakak dari Yosi mendekam selama beberapa hari terakhir. Kebakaran tersebut terjadi tepat di hari Sasmita meninggal.

***

Selesai

Tanpa Judul

Aku tahu aku bersalah padanya. Aku tahu aku bukan yang terbaik untuknya. Aku tahu kalau aku sering menyakiti perasaannya. Dan aku sangat tahu kalau aku sungguh mencintainya. Aku mencintainya dengan seluruh hati dan jiwaku. Namun kini dia pergi, meninggalkanku dalam kesunyian, melupakan cerita cinta kita.


Apakah sesuatu yang dimulai dengan terburu-buru tidak akan menghasilkan sesuatu yang indah?

Apakah sesuatu yang dimulai dengan menyakiti perasaan orang lain, tidak akan mendamaikan perasaan kita?

Apakah cinta kita tidak sekuat yang kita pikirkan?

Apakah kita ditakdirkan untuk saling menyakiti?

Apa rencana Tuhan dengan mempertemukan kita, bila berakhir duka?

Apa...apa...apa...


Di benakku terdapat ribuan pertanyaan untuknya, yang tak berani aku ajukan. Sama seperti kenangan kami yang tak lagi aku berani ingat. Aku ingin melupakannya selamanya. Aku ingin pergi darinya, aku ingin menjauh hingga tak seorang pun dapat menemukanku. Namun, aku tak bisa. Aku tak sanggup kehilangannya. Aku tak sanggup. Aku mencintainya.


Aku tak pernah menyangka rasa itu berubah menjadi duri dalam hati kami. Aku tak pernah menyangka aku akan menyakitinya hingga dia memilih pergi. Aku tak pernah menyangka cerita indah itu berbalik menjadi mimpi buruk bagi kami. Maaf. Aku minta maaf. Aku tak sanggup mengutarakannya secara langsung, karna aku tak berani. Aku tak berani memandang wajahnya, aku tak berani menatap matanya karna aku takut. Aku takut aku tak mampu melupakannya.


Aku yakin dia meninggalkanku untuk alasan yang terbaik. Dia selalu melakukan yang terbaik untuk hubungan kami. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan untukku. Aku sadar aku bukan untuknya. Aku bukan yang terbaik untuknya. Aku sadar cintaku hanya membuat luka untuknya. Tinggalkanlah aku karna itu yang terbaik dan maafkanlah aku.


Aku telah merelakan semuanya. Bawalah pergi semua cintaku karna tidak akan ada lagi cinta seperti itu di dalam hatiku. Namun, percayalah aku akan belajar berdiri tanpamu. Aku akan belajar berjalan tanpamu, dan kemudian aku akan mampu berlari tanpamu. Walaupun membutuhkan waktu lama, aku yakin aku mampu melakukannya. Aku yakin itu.