Sarah (part 2)

“Kamu darimana aja sih? Janjinya mau dateng jam setengah 4, kamu nyatanya sekarang nyampe rumahku jam 5. Ngapain aja sih?”, tanya Sarah pada Bintang dengan berapi-api.

“Maaf yank, aku udah berusaha datang tepat waktu. Tadi aku ke stasiun dulu sama Frans, aku mau beli tiket.”

“Kalau mau ke stasiun, ngapain bikin janji segala?”

“Aku mau ngajakin kamu nonton New Moon yank, tapi filmnya udah mulai dari jam setengah lima tadi. Gimana? Kamu masih mau nonton gak?”, ujar Bintang sambil menyodorkan dua tiket bioskop pada Sarah.

“Gak ah, udah telat setengah jam. Perjalanan dari rumahku ke bioskop itu setengah jam, berarti kita bakalan telat satu jam. Mau dapat apaan coba? Udahlah, gak jadi pergi aja”, lalu Sarah segera berjalan masuk ke rumahnya diikuti Bintang yang tertunduk lesu.

“Maaf yank, aku tadi udah bener-bener berusaha untuk datang tepat waktu. Tapi, aku harus ngehindarin Frans dulu, aku enggak mau dia tau aku ngajak kamu pergi. Aku belum bisa ngasih tau dia tentang kita.”

“Terserah!!”, kata Sarah sambil melemparkan tiket bioskop itu ke lantai.

“Jangan dibuang dong yank. Maaf yank, kamu marah ya sama aku? Aku juga enggak tahu kenapa aku selalu begini. Aku selalu berusaha untuk datang tepat waktu tapi selalu aja ada hambatannya. Please yank, jangan marah lagi. Aku bener-bener minta maaf.”

Sarah mengangguk sambil mencoba tersenyum. Lalu, dipungutnya lagi tiket bioskop yang tadi dibuang olehnya. Dia berkata pada Bintang bahwa dia kali ini bisa memaafkan Bintang tapi kalau lain kali Bintang telat janjian lagi seperti ini, Sarah akan benar-benar marah.

Sarah memang bukan gadis yang penyabar. Emosinya labil, emosinya mudah meledak-ledak. Dia sangat tidak menyukai menunggu dan dia sangat membenci orang yang mengingkari janji. Dia sebenarnya kaget dan senang melihat Bintang membawakan tiket bioskop itu. Dia tahu mendapatkan tiket New Moon saat ini benar-benar susah, karena film itu baru saja diputar. Tentu yang mengantri sangat banyak, pasti Bintang sudah bersusah-payah untuk mendapatkan tiket itu. Tiba-tiba Sarah merasa bersalah tadi sudah melempar tiket tersebut di depan Bintang dan sebenarnya dia tetap ingin menonton film itu. Tapi Sarah tidak ingin memperlihatkan perasaannya itu, biarlah Bintang menganggapnya marah, agar di lain waktu Bintang lebih bisa menghargai waktu dan mampu menepati janji yang dibuatnya sendiri. Sarah ingin Bintang merubah kebiasaan buruknya yang menyepelekan waktu dan janji.

Namun, ternyata Bintang tetap saja belum berubah.

“Tang, kamu dimana?”, tanya Sarah melalui telepon.

“Aku masih di kampus yank. Tunggu, bentar lagi aku jemput.”

“Oke. Aku tunggu. Cepetan!”

Lima menit berlalu, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam terus bergulir tanpa tanda-tanda kehadiran Bintang. Sarah mulai tidak sabar.

“Bintang!! Kamu dimana? Lupa ya mau jemput aku?”

“Bentar yank. Maaf, aku enggak lupa kok. Ini Frans belum datang, jadi aku yang harus ngegantiin dia membuka rapat.”

“Kenapa harus kamu? Emangnya enggak ada orang lain selain kamu?”

“Enggak ada yang mau yank. Tunggu bentar lagi ya yank”, pinta Bintang dengan suaranya yang lembut.

“Yaudah iya iya. Awas kalo lama!!”

Sarah kembali menunggu. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, setengah jam, satu jam terus berlalu. Sarah sudah hilang kesabaran. Dia sambar handphonenya dan lagi-lagi menelepon Bintang.

“Udahlah, kalau emang enggak bisa jemput, aku enggak usah dijemput. Aku enggak datang.”

“Yank, ini aku jemput sekarang ya. Kamu datang aja ya. Kamu kan udah siap-siap, masa enggak datang?”

“Iya, udah siap-siap dari dua jam yang lalu. Aku nungguin sampe lumutan.”

“Maaf yank, ini aku udah di jalan ke rumahmu. Kamu tunggu sebentar lagi.”

“Ya udahlah, terserah!!”

Saat Bintang sampai di rumah Sarah, Sarah hanya diam dan cemberut saja. Bahkan saat Bintang menggoda Sarah, Sarah hanya mendelik ke arah Bintang dan berjalan menuju motor Bintang. Selama di perjalanan pun Sarah hanya diam. Bintang berusaha meminta maaf tapi Sarah hanya memandang ke jalan dengan tatapan kosong. Sarah sadar saat Bintang mengubah arah spionnya agar bisa melihat dia yang membonceng di belakang tapi Sarah pura-pura tak perduli. Dia lebih memilih diam untuk menenangkan dirinya sendiri. Dia saat ini sedang dalam keadaan sangat marah dan dia ingin meredam emosinya dulu dengan berdiam diri. Sarah tidak ingin marah-marah pada Bintang, dia tahu kalau dia meladeni Bintang saat ini, dia akan semakin emosi.

Sarah kecewa pada Bintang yang masih saja menyepelekan janji. Apa karena hanya janji pada Sarah jadi Bintang menganggap itu bukan hal besar? Terus kenapa selalu karena Frans. Kemarin telat karena menjaga perasaan Frans, sekarang telat karena menggantikan Frans. Sebenarnya siapa sih pacarnya Bintang? Aku atau Frans? Begitu pikir Sarah.

Sarah tahu bahwa Frans adalah teman pertama Bintang di sini. Bintang memberitahu Sarah bahwa Frans adalah sahabatnya. Saat Bintang tahu Frans juga menyukai Sarah, Bintang mengalah. Dia mencoba mendekatkan Sarah pada Frans. Namun, Sarah selalu menolak. Frans pun hanya berdiam diri, tidak sedikit pun memperlihatkan bahwa ia menyukai Sarah. Akhirnya Bintang nekad mendekati Sarah. Baru akhir-akhir ini Bintang menjelaskan hal ini pada Frans. Sarah yang memintanya karena Sarah tak mau dia merusak persahabatan Frans dan Bintang. Dan Sarah sudah tidak mau lagi berpacaran diam-diam. Sarah tak mau lagi harus menunggu semua teman-teman sekelasnya pulang agar dia bisa pulang diantarkan oleh Bintang. Sarah tak mau lagi Bintang mengarang cerita di depan Frans tentang cewek yang sedang didekati Bintang. Sarah ingin Bintang menceritakan tentang dirinya dengan menyebut nama aslinya, bukan nama orang lain. Sarah ingin diakui oleh Bintang. Sarah ingin hubungannya dengan Bintang dapat direstui oleh semua orang.

***

(bersambung)

Without Words

I shouldnt have done that,

I should have pretend not to know

Like I didnt see it, like I couldnt see it

I shouldnt have looked at you in the first place

I should have run away

I should have pretended I wasnt listening

Like I didnt hear it, like I couldnt hear it

I shouldnt have heard your love in the first place

Without a word you made me know love

Without a word you gave me love

Because you took a just a breath and ran away like this

Without a word love leaves me

Without a word love abandons me

Wondering what to say next, my lips were surprised

Because it came without a word.

(Without Words – Park Shin Hye)

Ketika aku jatuh cinta, hal-hal yang aku lakukan terasa berbeda dengan diriku yang sebelumnya. Semarah apapun aku terhadapnya, rasa cintaku padanya malah bertambah, jantungku tetap berdetak cepat ketika melihatnya. Namun dia tak pernah tahu, karena jantungku tersembunyi dengan rapi. Dan aku tidak menginginkan dia tahu.

Ketika aku jatuh cinta, memandang wajahnya saja membuat hatiku terasa hangat. Di saat aku merasa kesepian, aku buka album fotoku berdua dengannya, dan rasa kesepian sedikit demi sedikit terusir olehnya. Dia tidak tampan, bahkan teman-temanku bilang dia jauh dari definisi tampan. Tapi, aku tidak peduli. Aku mencintai dia, apa yang ada di dalam dirinya, bukan wajahnya.

Ketika aku jatuh cinta, mencium wangi parfumnya membuatku merasa tenang dan nyaman. Parfumnya hanyalah parfum yang mudah didapat di supermarket-supermarket. Tapi, tetap saja aku menyukainya.

Aku mencintainya.

Namun, ketika dia meninggalkanku, setiap melihat wajahnya memantik amarah di dalam hatiku. Setiap melihat wajahnya, membuat hatiku gelisah dan tidak tenang.

Ketika dia meninggalkanku, setiap kudengar suaranya membuatku ingin menangis. Setiap mendengar suaranya, aku ingin menutup telingaku rapat-rapat, menyumpalnya rapat-rapat hingga tak sedikit pun suaranya dapat terdengar.

Ketika dia meninggalkanku, setiap aku mencium bau parfumnya, aku merasa ingin mengurung diri di dalam kamar dan berteriak keras-keras. Setiap mencium bau parfumnya, ingin rasanya aku membenamkan kepalaku ke dalam air hingga hidungku tak mampu berfungsi.

Namun, ketika dia meninggalkanku, di setiap kesepian melanda diriku mengingat kenangan bersamanya mampu menguatkan aku. Di setiap kesepian membuatku merasa sedih, mengingat wajahnya membuatku tersenyum. Di setiap aku kesepian, aku sadar aku tak mampu membencinya dan aku tak mampu melupakannya. Tapi, aku yakin aku mampu menemukan kebahagiaanku tanpanya.

Without a word you made me know love

Without a word you gave me love

Because you took a just a breath and ran away like this

Without a word love leaves me

Without a word love abandons me

Wondering what to say next, my lips were surprised

Because it came without a word.

Fantasy or Real Life?



Apakah ini kehidupan nyata atau hanya sebuah fantasi belaka?

Salah seorang temanku berkata life is fantasy that becomes real. Is it true?


Jika kehidupan ini adalah perwujudan fantasi kita, mengapa terasa begitu menyesakkan dada?

Fantasi? Apa itu fantasi?

Aku mengenal fantasi dari buku-buku dongeng. Cerita tentang putri raja, raksasa dan pangeran tampan. And of course happily ever after. Is that really exist?

Fantasi setiap remaja perempuan di dunia mungkin sama, yaitu menikah dengan laki-laki yang mencintainya dengan sepenuh hati dan bahagia selama-lamanya. Like the fairy tales told us.

Tapi, tahukah kalian bahwa tidak ada jalan keluar dari kenyataan. Kita tidak dapat merubah kenyataan yang ada. Kita tidak bisa memaksakan hidup kita harus sesuai dengan apa yang kita inginkan karena kenyataan yang ada terkadang melenceng jauh dari yang kita perkirakan. Manusia hanya mampu berikhtiar dan Tuhanlah yang menentukan takdir kita.

Seperti yang band Queen nyanyikan melalui lagunya bohemian rhapsody

Is this the real life?
Is this just fantasy?
Caught in a landslide
No escape from reality
Open your eyes
Look up to the skies and see

Jika hidup mulai terasa berat, bukalah mata kalian, rasakan kehidupan di sekelilingmu, maka kau akan menemukan nikmat Tuhan yang mungkin tak kau sadari.

Dan di saat hatiku terasa sesak dan air mata mulai mengalir, ada satu hal yang aku lakukan.

So I lay my head back down. And I lift my hands and pray.

Surat Terakhir (part 2)

Kalian sungguh tak terpisahkan, dimana ada dirimu di situ pula ada dia, begitu pun sebaliknya. Hal itu membuat kita jauh. Hubungan kita merenggang, aku merasa risih berada di dekatmu saat kau sedang bersamanya. Aku pun mulai menjauhimu, kau sibuk dengan dunia barumu bersama Indra sehingga tidak menyadari aku menjauh. Di dalam hatiku seperti terdapat lubang yang menganga lebar tanpa adanya dirimu di sampingku, sahabat. Namun, aku abaikan perasaan itu karena aku beranggapan kau sudah tak butuh aku.

Aku menyibukkan diriku dengan berbagai kegiatan. Aku ikut berbagai macam les, aku ikut berbagai macam ekstrakurikuler di sekolah. Aku mulai mendekatkan diri dengan teman-teman yang lain, hingga akhirnya aku benar-benar melupakanmu. Maaf, saat itu tak sedikit pun aku mengingatmu sebagai sahabatku.

Aku benar-benar melupakanmu dan hal itu membuatku tidak tahu bahwa kau mengalami masalah. Aku tidak tahu bahwa ayahmu dipecat dari pekerjaannya, aku bahkan tidak menghadiri saat ibumu dimakamkan. Saat aku tahu itu semua, sudah terlambat. Aku tidak dapat menemukanmu, yang aku temui hanyalah ayahmu yang kurus kering bagaikan ranting kering di musim gugur. Beliau letih membanting tulang demi menghidupi adik-adikmu. Kau dimana??

Begitu panjang jalan yang aku tempuh untuk bisa menemukanmu. Tapi saat menemukanmu, aku justru berharap itu bukanlah dirimu. Jujur, saat pertama kali menemukanmu, aku merasakan jijik yang teramat sangat. Aku jijik melihatmu masuk ke dalam dunia yang tidak pernah aku bayangkan. Aku jijik melihatmu menjajakan dirimu kepada lelaki hidung belang di luar sana.

Aku berusaha menguatkan diriku untuk kembali mendekatimu. Aku berusaha menguatkan hatiku agar aku berani membawamu kembali pulang ke pangkuan keluargamu dan memperbaiki dirimu. Namun, kau menolakku mentah-mentah. Kau berpura-pura tidak mengenalku. Kau memakiku, kau mendorongku menjauh, bahkan kau menyuruh salah seorang temanmu mengusirku. Memang saat itu aku pergi, tapi aku pergi untuk mencari informasi lebih banyak tentang dirimu. Aku dekati beberapa penjaga warung di dekat tempatmu tinggal. Aku butuh beberapa hari untuk mengumpulkan semua informasi tentang apa saja yang kau lakukan di sana.

Aku semakin kaget karena ternyata kau tidak hanya berperan sebagai pelacur, kau juga menggunakan dan mengedarkan obat-obatan terlarang. Kau sudah jatuh terlalu dalam sahabatku, tapi aku masih berharap aku mampu membawamu pulang.

Aku menggunakan berbagai cara untuk membujukmu. Aku membawa ayahmu ke tempatmu bekerja, bahkan aku membayarmu untuk sekedar menemaniku ngobrol. Aku mengingatkan padamu pengalaman persahabatan kita, aku ceritakan padamu keadaan keluargamu. Namun, tak sedikit pun kau tergerak. Kau terus-terusan menolakku. Bahkan kau memalingkan wajahmu saat ayahmu kembali datang sambil terbatuk-batuk. Beliau merapatkan kedua tangannya di dada untuk menahan dingin, namun kau hanya tertawa dan membanting pintu di depan wajah ayahmu.

Aku sudah tidak memiliki cara lagi bagaimana membuatmu mengerti, bagaimana membuatmu kembali di tengah-tengah kami. Kamu begitu jauh dan semakin jauh. Hingga akhirnya aku memutuskan memberitahukan pihak kepolisian bahwa kau adalah salah satu pengedar narkoba. Hal ini aku lakukan dengan harapan selama kau di dalam penjara, kau mendapatkan hidayah Tuhan dan akhirnya kau memutuskan untuk kembali ke jalanNya.

Itulah alasan dan harapanku yang begitu besar untukmu, sahabatku. Aku mohon mengertilah dan maafkanlah aku.

Semarang, 7 September 2010-09-10

Sasmita

***

Hari ini aku akan mengeposkan suratku ini untukmu. Semoga kau dapat menerima surat ini dan memahami maksud hatiku. Aku akan mengantarkannya dengan adik bungsumu, Yosi.

“Mbak mitaaa, awaaaas!!!!!!”

Hal terakhir yang aku lihat adalah wajah ketakutan adikmu, kugenggam erat-erat suratku untukmu, lalu gelap. Semuanya gelap gulita. Tidak hanya gelap, tapi juga dingin, dingin yang menusuk-nusuk tulangku.

***

”Ayah, Yosi merasa bersalah pada mbak Mita. Kakak tidak akan pernah membaca surat dari mbak Mita yang sudah ditulisnya dengan susah payah.”

“Itu sudah takdir Mita, nak. Relakanlah kepergian Mita agar dia tenang di alam sana. Mungkin di sana dia dan kakakmu akan bertemu dan mulai menjalin persahabatannya lagi dari awal”, ujar Ayah Yosi sambil meletakkan koran yang sedari tadi ia genggam dengan erat.

Headline koran tersebut adalah berita kebakaran yang menimpa penjara tempat kakak dari Yosi mendekam selama beberapa hari terakhir. Kebakaran tersebut terjadi tepat di hari Sasmita meninggal.

***

Selesai

Tanpa Judul

Aku tahu aku bersalah padanya. Aku tahu aku bukan yang terbaik untuknya. Aku tahu kalau aku sering menyakiti perasaannya. Dan aku sangat tahu kalau aku sungguh mencintainya. Aku mencintainya dengan seluruh hati dan jiwaku. Namun kini dia pergi, meninggalkanku dalam kesunyian, melupakan cerita cinta kita.


Apakah sesuatu yang dimulai dengan terburu-buru tidak akan menghasilkan sesuatu yang indah?

Apakah sesuatu yang dimulai dengan menyakiti perasaan orang lain, tidak akan mendamaikan perasaan kita?

Apakah cinta kita tidak sekuat yang kita pikirkan?

Apakah kita ditakdirkan untuk saling menyakiti?

Apa rencana Tuhan dengan mempertemukan kita, bila berakhir duka?

Apa...apa...apa...


Di benakku terdapat ribuan pertanyaan untuknya, yang tak berani aku ajukan. Sama seperti kenangan kami yang tak lagi aku berani ingat. Aku ingin melupakannya selamanya. Aku ingin pergi darinya, aku ingin menjauh hingga tak seorang pun dapat menemukanku. Namun, aku tak bisa. Aku tak sanggup kehilangannya. Aku tak sanggup. Aku mencintainya.


Aku tak pernah menyangka rasa itu berubah menjadi duri dalam hati kami. Aku tak pernah menyangka aku akan menyakitinya hingga dia memilih pergi. Aku tak pernah menyangka cerita indah itu berbalik menjadi mimpi buruk bagi kami. Maaf. Aku minta maaf. Aku tak sanggup mengutarakannya secara langsung, karna aku tak berani. Aku tak berani memandang wajahnya, aku tak berani menatap matanya karna aku takut. Aku takut aku tak mampu melupakannya.


Aku yakin dia meninggalkanku untuk alasan yang terbaik. Dia selalu melakukan yang terbaik untuk hubungan kami. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan untukku. Aku sadar aku bukan untuknya. Aku bukan yang terbaik untuknya. Aku sadar cintaku hanya membuat luka untuknya. Tinggalkanlah aku karna itu yang terbaik dan maafkanlah aku.


Aku telah merelakan semuanya. Bawalah pergi semua cintaku karna tidak akan ada lagi cinta seperti itu di dalam hatiku. Namun, percayalah aku akan belajar berdiri tanpamu. Aku akan belajar berjalan tanpamu, dan kemudian aku akan mampu berlari tanpamu. Walaupun membutuhkan waktu lama, aku yakin aku mampu melakukannya. Aku yakin itu.




Surat Terakhir (part 1)

Sahabat, bukan maksudku ingin menjatuhkanmu ke dalam penderitaan dan kesepian. Aku hanya tak mampu lagi melihatmu berjalan di dalam dunia yang gelap dan kejam. Kamu berhak mendapatkan hidup yang jauh lebih baik.

Aku tahu yang aku lakukan padamu saat ini tidak membuatmu merasa lebih baik. Aku mengerti kalau kamu merasa kebebasanmu terenggut. Tapi, ini bisa kau jadikan batu pijakan bagimu untuk memperbaiki hidup. Aku mohon mengertilah.

Kau berkata padaku bahwa aku bukanlah sahabat yang baik, karena aku telah memasukkanmu ke dalam penjara. Kau berkata aku adalah teman terburuk, karena aku membiarkanmu tidur di dalam sel yang dingin. Kau berkata kalau aku mengkhianatimu, kau berkata kalau aku menyiksa hatimu, kau berkata kalau aku bahagia melihatmu menderita. Kau salah!! Aku menyayangimu, sungguh-sungguh menyayangimu. Karena rasa sayangku itulah aku membiarkanmu ditangkap oleh pihak kepolisian.

Tahukah kau di luar sini, aku jauh lebih sakit dibanding yang kau rasakan di dalam sana. Aku sakit karena sahabat terbaikku membenciku. Hatiku sakit sekali seperti dilindas oleh truk. Aku mohon mengertilah.

Ingatkah kau pertama kali kita bertemu? Kita adalah teman satu sekolah saat masih SD dulu. Kamu adalah teman pertamaku. Aku ingat waktu itu aku menangis di depan kelas karena aku takut masuk sekolah. Lalu, kau datang dan langsung menggandeng tanganku. Kau tersenyum dan sambil menggandengku, kau mengajakku masuk ke dalam kelas. Saat sudah di dalam kelas, aku masih saja menangis, lalu kau menghiburku dengan memberikan cokelat pemberian ibumu. Hingga saat ini, aku merasa cokelat itu adalah cokelat ternikmat yang pernah aku rasakan.

Aku adalah murid tercengeng di kelas dan kau adalah murid paling nakal. Tapi, kau selalu menjagaku, tidak pernah membiarkan teman-teman lain mengerjaiku. Kau sejak dulu adalah penjagaku dan aku hanyalah orang yang selalu merepotkanmu. Ingatkah kau, aku pernah tiba-tiba datang ke rumahmu sambil menangis? Ingatkah kau kenapa aku menangis? Hanya gara-gara aku diejek oleh salah satu teman sekelas kita karena aku tidak bisa naik sepeda. Lalu kau segera mengambil sepedamu dan mengajakku pergi ke halaman belakang rumahmu. Kau adalah guruku, guru yang membuatku bisa naik sepeda, guru kecilku yang lucu.

Tahun demi tahun berlalu, aku tumbuh menjadi gadis yang penurut sedangkan kau tumbuh menjadi gadis yang pemberani dan pemberontak. Entah sejak kapan aku mulai tidak mengenalimu. Kau semakin menjauh dariku sejak kau mengenal Indra, pacar pertamamu itu. Kau jatuh cinta padanya pada pertengahan bulan September dua tahun yang lalu.

***

(bersambung...)

Sarah (part 1)

Ditemani alunan mendayu-dayu lagu-lagu Indonesia, aku memulai kisah ini. Terinspirasi dari pengalaman pribadi (ehem) dan beberapa pengalaman teman serta berkat menonton sinetron yang aduhai lebaynya, aku mendapat ide untuk cerita ini. Silahkan dinikmati.... ^^


Sarah adalah seorang perempuan yang beranjak dewasa. Sarah memiliki watak yang keras namun hatinya sangatlah lembut. Dia bukanlah seorang perempuan yang mudah dipengaruhi oleh orang lain, tidak mudah percaya oleh orang lain dan dia memiliki prinsip untuk tidak takluk pada cinta laki-laki. Hal ini bukan berarti dia tidak membutuhkan cinta dari seorang laki-laki, dia hanya tidak ingin menggantungkan semua perasaan dan pikirannya untuk sebuah cinta yang tidak abadi.

Ego Sarah begitu besar, di dalam hati kecilnya dia adalah seorang yang arogan, dia meremehkan orang-orang yang kehilangan harapan hidup karena kehilangan cinta dari kekasihnya. Dia memandang sebelah mata rasa sakit yang dirasakan oleh orang-orang yang patah hati tersebut. Dia sangat yakin dia tidak akan terjerumus ke dalam pusaran derita karena patah hati. Dia sangat yakin dia TIDAK AKAN PERNAH patah hati. Itulah keyakinan dalam hatinya sepuluh bulan yang lalu.

***

“Ada cowok yang mendekatiku”, ungkap Sarah.

“Siapa? Frans? Baru nyadar? Udah dari dulu kali”, jawab Mita tanpa memalingkan wajah dari laptopnya.

“Bukan Frans, sahabatku tersayaaang.”

“Oh, bukan Frans ya? Berarti mas Doni? Akhirnya kamu percaya sama aku kalau mas Doni suka sama kamu? Akhirnya Tuhan membukakan pintu hatimu nak. Hahahaa...”

“Mitaaaa, kenapa jadi mas Doni? Dia itu kakakku, ok?”

“Kakak jadi-jadian? Hahahaa...”

“Emangnya siluman jadi-jadian? Bukan mas Doni yang aku maksud Mit, udah deh jangan ketawa melulu”, ucap Sarah sembari mengerutkan keningnya melihat sahabatnya yang masih tertawa terpingkal-pingkal.

Setelah Mita menghabiskan tawanya, Sarah melanjutkan bercerita, “Bintang Mit, Bintang yang aku maksud.”

“Apa?! Bintang?? Kenapa mesti Bintang?? Kamu tahu dia itu gimana. Aku enggak suka sama Bintang.”

“Bagus deh kalo kamu enggak suka sama Bintang, jadi aku enggak ada saingan. Karena...aku suka sama Bintang, Mit”, wajah Mita begitu masam begitu mendengar perkataan Sarah sehingga Sarah terdiam.

“Aku juga enggak sudi kok saingan sama kamu cuma untuk ngedapetin seorang Bintang, playboy kampungan itu”, ujar Mita dengan ketus.

“Bukan itu maksudku Mit dan tolong jangan panggil Bintang sebagai playboy kampungan.”

“Terus aku harus manggil dia apa? Playboy bulukan?”

“Mita!! Aku jatuh cinta sama dia. Aku jatuh cinta sama Bintang. Aku mencintai orang yang kamu sebut playboy kampungan itu, aku merasa nyaman berada di dekatnya, dia membuat hatiku merasakan tentram dan bahagia. Dia cinta pertamaku Mit”, Sarah menangis setelah selesai berbicara. Dadanya naik turun karena tangis yang tak tertahankan.

“Dia udah berubah Mit, Bintang bukan lagi Bintang yang dulu. Aku yakin itu, aku mampu merasakan ketulusannya”, lanjut Sarah di sela tangisannya.

“Aku hanya enggak mau kamu patah hati seperti Chintya, berbulan-bulan dia menangisi Bintang, tapi apa yang dilakukan Bintang? Chintya sakit di depan matanya, tidak sedikit pun Bintang menolong, tidak pula menjenguk Chintya saat Chintya harus dirawat di rumah sakit. Bintang dengan mudahnya membuat Chintya mencintainya lalu setelah dia bosan, dia membuang Chintya begitu saja. Apa kamu merasa Bintang enggak akan ngelakuin itu ke kamu? Sarah, sebagai sahabatmu, aku mengkhawatirkanmu”, ungkap Mita sambil memeluk dengan erat sahabatnya yang sedang menangis sesenggukan.

“Aku berjanji aku mampu menjaga diriku dan hatiku Mit, aku berjanji aku tidak akan jatuh sedalam Chintya, aku berjanji hubunganku dengan Bintang nanti akan dipenuhi dengan cinta kasih yang direstui oleh Tuhan. Aku berjanji, Mita”, ujar Sarah dalam dekapan Mita.

Di dalam hatinya, Sarah menyerukan dengan keras pada perasaan dan pikiraannya janji yang ingin ia tepati.

Aku, Sarah Pustika Sari, berjanji aku akan membuat hubunganku dengan Bintang nanti seindah pancaran sinar bulan purnama dan sekuat ombak di lautan luas.

Aku berjanji selama darah masih mengalir deras dalam pembuluh darahku, aku akan mencintainya dengan tulus, membuatnya mencintaiku, membalas cintaku dan membuat cinta di antara kami seindah cinta yang dipuisikan oleh penyair-penyair sejak jaman dahulu.

Bantulah aku, oh Tuhanku.

***

Sarah memandangi dengan penuh perhatian wajah Bintang yang duduk di hadapannya. Sarah memperhatikan bagaimana bentuk hidung Bintang, bagaimana tajamnya tatapan mata Bintang, Sarah memandangi hitamnya rambut Bintang yang terkulai berantakan karena Bintang terus saja mengacak-acak rambutnya sambil menunggu Sarah berbicara. Sarah tersenyum geli, entah apa yang membuatnya mencintai Bintang, dia tidak tampan dan juga tidak kaya, dia hanya cowok yang biasa-biasa saja. Sarah ingin sekali segera mengiyakan permintaan Bintang untuk menjadi pacarnya, dia mencintai Bintang namun dia ingin menguji Bintang, Sarah terus diam, menunda memberikan jawaban tentang perasaannya pada Bintang.

“Bintang...”, panggil Sarah lirih. Bintang langsung mendongak, memandang wajah Sarah dengan penuh harap, senyumnya terkembang membuat hati Sarah berdegup kencang.

“Iya Sarah??”

“Engg..enggak apa-apa Tang. Enggak jadi”, Sarah menahan senyum melihat Bintang menunduk lesu kembali, wajahnya ditekuk mendengar Sarah tidak jadi bicara.

“Sarah, apa begitu susah buat kamu untuk menjawab permintaanku? Aku siap mendengar jawabanmu apapun itu. Aku memang berharap kamu menerima aku, tapi aku tahu diri. Aku enggak pantas buat kamu. Kalau kamu menolakku, itu wajar, bukan salahmu, aku aja yang sial. Setiap aku mau menjalin hubungan yang serius, selalu ada halangan, entah dari orang tua atau masalah lain. Mungkin hal itu karena aku dulu sering menyakiti perasaan cewek, jadinya sekarang nasibku kayak gini”, mata Bintang berkaca-kaca, pancaran sinar matanya menunjukkan kebulatan tekad, menunjukkan kesungguhan dalam kata-katanya. Sinar matanya terasa tajam sekali menembus hati Sarah, membuat Sarah hampir tak mampu menahan tetesan air mata dari kedua bola matanya.

Sarah memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, keinginannya untuk menguji Bintang ingin segera dia sudahi. Sarah telah mendapatkan jawaban dari kesungguhan Bintang yang dipertanyakan oleh Mita dan dirinya sendiri. Bintang memang benar-benar jatuh cinta padanya. Sarah yakin akan hal itu.

“Aku mau. Aku mau jadi pacarmu.”

“Apa?? Sarah, kamu bilang apa?? Kamu mau jadi pacarku? Alhamdulillah”, Bintang tertawa gembira, dia kepalkan tangannya, meninju-ninju udara sambil tertawa bahagia. Lalu, dia peluk Sarah sambil berbisik lirih di telinga Sarah, “Aku mencintaimu. Aku akan setia padamu, aku berjanji akan selalu menjagamu.”

“Iya, aku percaya.” Sarah terbelalak saat Bintang mendaratkan kecupan di pipinya, belum pernah ada orang yang menciumnya kecuali orang tuanya tentu saja. Bintang adalah orang pertama yang mencium pipinya.

“Sarah, kamu marah ya?”, tanya Bintang saat melihat Sarah hanya terdiam.

“Enggak, aku enggak marah kok”, jawab Sarah sambil tersenyum.

“Bagus deh, kalau gitu kamu cium pipiku juga dong”, goda Bintang sambil mendekatkan pipinya ke arah Sarah.

“Apa?? Nyium kamu??”

“Iya, cium pipiku”, ucap Bintang sambil tersenyum dan terus semakin mendekatkan pipinya pada Sarah.

Sarah meremas-remas kedua tangannya, mengaitkan kesepuluh jarinya sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba dengan begitu cepat Sarah mendaratkan sebuah kecupan di pipi Bintang. Lalu, Sarah kembali tertunduk malu, wajahnya memerah.

Bintang tersenyum senang, dia kembali memeluk Sarah dan dengan lembut dia kecup dahi Sarah. “Sayang, tahukah kamu? Hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukku”, ujar Bintang.

“Kenapa?”

“Karena akhirnya kamu jadi pacarku.” Mereka berdua tersenyum, hati Sarah dipenuhi dengan kebahagiaan, terasa ada yang menggelepar dalam perutnya karena dia terlalu bahagia. Dia bahagia karena dia yakin Bintang akan menjadi yang terakhir untuknya.

Perkenalan, pendekatan, lalu pacaran. Sarah dan Bintang telah memasuki fase ketiga dalam hubungan mereka. Mereka telah resmi berpacaran. Malam itu adalah saat yang paling membahagiakan untuk Sarah, tapi akankah terus seperti itu? Apakah ia mampu menjaga hatinya? Apakah ketakutan Mita akan terbukti? Sanggupkah Bintang menepati janjinya pada Sarah? Hanya Tuhan yang mampu menjawab takdir di antara mereka.

***

(bersambung...)