Sarah (part 5)

Dua hari kemudian, Sarah lagi-lagi marah pada Bintang. Emosi Sarah begitu mudah tersulut dikarenakan beban pikiran yang sulit ia lepaskan.

Malam itu, Sarah curhat pada Bintang mengenai masalah keluarganya melalui sms. Satu sms, dua sms, berjalan dengan lancar. Lalu, sms ketiga tak kunjung dibalas oleh Bintang. Satu menit, dua menit, hingga satu jam tak juga ada balasan dari Bintang.

Sarah bingung dan jengkel. Ia segera berlari keluar rumah untuk membeli pulsa agar bisa menelepon Bintang. Namun sayang, tempat jual pulsa langganan Sarah tutup. Ia kembali berlari ke rumah, mengendap-endap memasuki kamar ibunya dan dengan bisikan lirih di sebelah ibunya yang sedang tertidur, Sarah meminjam handphone ibunya untuk menelepon Bintang.

Sarah semakin marah saat Bintang kembali tertidur setelah ditelepon oleh Sarah. Sarah merasa Bintang benar-benar tidak menghargai dirinya. Malam itu, Sarah terus menelepon Bintang berkali-kali hingga Bintang terbangun. Ia meluapkan segala emosinya pada Bintang. Ia menelepon hingga telinganya panas, tidak perduli apakah Bintang mendengarkan ataukah tertidur lagi.

Sarah sudah tidak perduli. Saat itu, dia hanya ingin didengarkan, dia hanya ingin suara hatinya dapat didengarkan oleh Bintang karena Bintanglah satu-satunya orang yang ia yakini sebagai alasan dia tetap tegar di tengah prahara keluarganya.

Sarah membanting teleponnya setelah dia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada Bintang yang terasa semakin dingin padanya. Sarah tak habis pikir, kemanakah Bintang saat dia butuhkan?

Dia ingat, setiap Sarah sakit, Bintang tak pernah ada untuknya. Saat Sarah sakit typus, tak sekalipun Bintang menjenguknya. Saat Sarah meminta Bintang menemaninya ke dokter karena saat itu dia sendirian di rumah, Bintang terus menundanya hingga akhirnya demam Sarah bertambah tinggi dan dia terpaksa berangkat ke dokter sendirian. Bintang seakan tak pernah ada secara nyata bagi Sarah saat dia dalam keadaan sulit. Bintang tak pernah ada dengan alasan kegiatan di kampusnya yang begitu padat.

Sarah bingung sekali. Di saat Sarah sedang sehat, bebas dari masalah, sesibuk apapun Bintang, dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Sarah bahkan di tengah-tengah rapatnya, tanpa diminta oleh Sarah. Tapi mengapa di saat Sarah benar-benar membutuhkan Bintang untuk menyemangatinya, untuk menemaninya di saat-saat sulit, di saat Sarah sakit, mengapa Bintang tak pernah ada?

Mengingat hal tersebut membuat hati Sarah semakin perih hingga tanpa pikir panjang dia mengirimkan sms pada Bintang untuk memutuskan hubungan. Bintang yang biasanya menentang permintaan putus dari Sarah, kini menyetujuinya. Sarah kembali menangis dan terus menangis hingga ia jatuh tertidur.

***

“Sarah, orang tuamu cerai ya? Kok bisa sih?”

“Iya, kok bisa sih? Wah, jangan-jangan ntar kamu beneran jadi anak pembantu nih.”

“Anak pembantu?”

“Halah, jangan pura-pura gak tau. Kamu kan setiap hari cuma berdua sama pembantumu itu, sampai-sampai ada beberapa teman yang ngatain kamu anak pembantu kan? Sekarang kamu benar-benar jadi anak pembantu. Orang tuamu udah pergi, mereka semua pergi meninggalkan kamu sendirian. Kamu sendirian!!!”

“Enggak!! Aku enggak sendirian. Aku masih punya Bintang. Aku masih punya Bintang.”

“Bintang udah bukan milikmu lagi Sarah. Kamu udah mutusin dia. Sekarang dia milikku. Bintang milikku. Kamu sendirian Sarah. Kamu sendirian!!”

“Sarah, kamu akan hidup sendirian. Tidak ada lagi orang yang sayang padamu. Tidak akan ada lagi Sarah. Semuanya pergi meninggalkan kamu.”

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!!”

Sarah terbangun dari tidurnya, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Enggak. Itu mimpi buruk. Itu hanya mimpi buruk. Aku enggak akan sendirian”, Sarah kembali menangis. Air matanya yang belum kering karena tangis tadi malam kini kembali menetes.

Sarah terduduk di lantai kamarnya sambil mendekap kakinya erat-erat ke dada. Tubuhnya bergetar karena rasa takut dan tangisan. Pelan-pelan, ia menggeser tubuhnya dan tangannya mencari-cari handphone miliknya. Dia tak ingin suara perempuan di mimpinya terbukti benar. Dia tidak ingin sendirian, dia membutuhkan Bintang. Sarah segera mengirimkan sms pada Bintang, memintanya memaafkan Sarah yang telah meminta putus tadi malam. Tapi, Bintang tidak sedikit pun membuka hatinya lagi. Hubungan mereka berakhir.

Air mata Sarah terus menetes, membasahi lantai kamarnya. Dia merasa bodoh karena telah membuang Bintang, padahal Bintanglah satu-satunya alasan ia mencoba tegar. Sarah ingat beberapa minggu lalu dia pernah berkata pada Bintang bahwa dia berjanji tidak akan minta putus dari Bintang. Karena tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi mereka untuk putus.

Sarah merasa hancur. Mimpinya terasa begitu menyesakkan di dada dan kini dia menghadapi kenyataan Bintang telah meninggalkannya.

Akankah seluruh mimpinya akan menjadi kenyataan? Akankah orang tua Sarah benar-benar bercerai? Akankah Bintang segera menemukan pengganti Sarah dan melupakan Sarah begitu saja?

Sarah (part 5)

Dua hari kemudian, Sarah lagi-lagi marah pada Bintang. Emosi Sarah begitu mudah tersulut dikarenakan beban pikiran yang sulit ia lepaskan.

Malam itu, Sarah curhat pada Bintang mengenai masalah keluarganya melalui sms. Satu sms, dua sms, berjalan dengan lancar. Lalu, sms ketiga tak kunjung dibalas oleh Bintang. Satu menit, dua menit, hingga satu jam tak juga ada balasan dari Bintang.

Sarah bingung dan jengkel. Ia segera berlari keluar rumah untuk membeli pulsa agar bisa menelepon Bintang. Namun sayang, tempat jual pulsa langganan Sarah tutup. Ia kembali berlari ke rumah, mengendap-endap memasuki kamar ibunya dan dengan bisikan lirih di sebelah ibunya yang sedang tertidur, Sarah meminjam handphone ibunya untuk menelepon Bintang.

Sarah semakin marah saat Bintang kembali tertidur setelah ditelepon oleh Sarah. Sarah merasa Bintang benar-benar tidak menghargai dirinya. Malam itu, Sarah terus menelepon Bintang berkali-kali hingga Bintang terbangun. Ia meluapkan segala emosinya pada Bintang. Ia menelepon hingga telinganya panas, tidak perduli apakah Bintang mendengarkan ataukah tertidur lagi.

Sarah sudah tidak perduli. Saat itu, dia hanya ingin didengarkan, dia hanya ingin suara hatinya dapat didengarkan oleh Bintang karena Bintanglah satu-satunya orang yang ia yakini sebagai alasan dia tetap tegar di tengah prahara keluarganya.

Sarah membanting teleponnya setelah dia tak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada Bintang yang terasa semakin dingin padanya. Sarah tak habis pikir, kemanakah Bintang saat dia butuhkan?

Dia ingat, setiap Sarah sakit, Bintang tak pernah ada untuknya. Saat Sarah sakit typus, tak sekalipun Bintang menjenguknya. Saat Sarah meminta Bintang menemaninya ke dokter karena saat itu dia sendirian di rumah, Bintang terus menundanya hingga akhirnya demam Sarah bertambah tinggi dan dia terpaksa berangkat ke dokter sendirian. Bintang seakan tak pernah ada secara nyata bagi Sarah saat dia dalam keadaan sulit. Bintang tak pernah ada dengan alasan kegiatan di kampusnya yang begitu padat.

Sarah bingung sekali. Di saat Sarah sedang sehat, bebas dari masalah, sesibuk apapun Bintang, dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Sarah bahkan di tengah-tengah rapatnya, tanpa diminta oleh Sarah. Tapi mengapa di saat Sarah benar-benar membutuhkan Bintang untuk menyemangatinya, untuk menemaninya di saat-saat sulit, di saat Sarah sakit, mengapa Bintang tak pernah ada?

Mengingat hal tersebut membuat hati Sarah semakin perih hingga tanpa pikir panjang dia mengirimkan sms pada Bintang untuk memutuskan hubungan. Bintang yang biasanya menentang permintaan putus dari Sarah, kini menyetujuinya. Sarah kembali menangis dan terus menangis hingga ia jatuh tertidur.

***

“Sarah, orang tuamu cerai ya? Kok bisa sih?”

“Iya, kok bisa sih? Wah, jangan-jangan ntar kamu beneran jadi anak pembantu nih.”

“Anak pembantu?”

“Halah, jangan pura-pura gak tau. Kamu kan setiap hari cuma berdua sama pembantumu itu, sampai-sampai ada beberapa teman yang ngatain kamu anak pembantu kan? Sekarang kamu benar-benar jadi anak pembantu. Orang tuamu udah pergi, mereka semua pergi meninggalkan kamu sendirian. Kamu sendirian!!!”

“Enggak!! Aku enggak sendirian. Aku masih punya Bintang. Aku masih punya Bintang.”

“Bintang udah bukan milikmu lagi Sarah. Kamu udah mutusin dia. Sekarang dia milikku. Bintang milikku. Kamu sendirian Sarah. Kamu sendirian!!”

“Sarah, kamu akan hidup sendirian. Tidak ada lagi orang yang sayang padamu. Tidak akan ada lagi Sarah. Semuanya pergi meninggalkan kamu.”

“TIDAAAAAAAAAAAAAK!!!!!!!!”

Sarah terbangun dari tidurnya, dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Enggak. Itu mimpi buruk. Itu hanya mimpi buruk. Aku enggak akan sendirian”, Sarah kembali menangis. Air matanya yang belum kering karena tangis tadi malam kini kembali menetes.

Sarah terduduk di lantai kamarnya sambil mendekap kakinya erat-erat ke dada. Tubuhnya bergetar karena rasa takut dan tangisan. Pelan-pelan, ia menggeser tubuhnya dan tangannya mencari-cari handphone miliknya. Dia tak ingin suara perempuan di mimpinya terbukti benar. Dia tidak ingin sendirian, dia membutuhkan Bintang. Sarah segera mengirimkan sms pada Bintang, memintanya memaafkan Sarah yang telah meminta putus tadi malam. Tapi, Bintang tidak sedikit pun membuka hatinya lagi. Hubungan mereka berakhir.

Air mata Sarah terus menetes, membasahi lantai kamarnya. Dia merasa bodoh karena telah membuang Bintang, padahal Bintanglah satu-satunya alasan ia mencoba tegar. Sarah ingat beberapa minggu lalu dia pernah berkata pada Bintang bahwa dia berjanji tidak akan minta putus dari Bintang. Karena tidak akan pernah ada waktu yang tepat bagi mereka untuk putus.

Sarah merasa hancur. Mimpinya terasa begitu menyesakkan di dada dan kini dia menghadapi kenyataan Bintang telah meninggalkannya.

Akankah seluruh mimpinya akan menjadi kenyataan? Akankah orang tua Sarah benar-benar bercerai? Akankah Bintang segera menemukan pengganti Sarah dan melupakan Sarah begitu saja?

Sarah (part 4)

Empat bulan berlalu, hubungan cinta kasih Sarah dan Bintang berjalan bukan tanpa hambatan. Hubungan mereka tidak pernah damai, selalu ada kemarahan, kecemburuan dan tangisan.
Sehari setelah perayaan ulang tahun Bintang, mereka bertengkar hebat di depan rumah Sarah. Sarah bersikeras minta putus dan seperti biasa Bintang hanya terdiam, menunduk serta sesekali menggumamkan permintaan maaf.
Sarah berada dalam puncak emosinya saat itu. Dia sangat kecewa pada Bintang yang tidak bisa memberikan perhatian bagi Sarah yang saat itu keluarganya sedang diguncang masalah besar. Bila bagi Bintang masalah perceraian orang tua bukan hal besar atau dia merasa hal itu sudah sering dia dengar dari sekian banyak mantan pacarnya, hal itu tidak berlaku bagi Sarah.
Keluarga Sarah memang tidak sempurna. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ayah Sarah dipindahkan kerja ke Jakarta. Sudah tujuh tahun pula Sarah jarang bertemu ayahnya, hanya seminggu sekali ia bertemu beliau. Itupun bila beliau tidak sedang tugas ke luar kota sehingga bisa pulang ke rumah bertemu dengan Sarah dan istrinya.
Tidak hanya ayah Sarah, ibu Sarah pun begitu. Pekerjaannya menuntutnya sering bepergian ke luar kota selama berbulan-bulan. Sabtu dan minggu adalah waktu berharga bagi mereka bertiga untuk berkumpul. Tapi, ayah dan ibu Sarah sering bertengkar saat mereka bertemu di rumah. Terkadang hanya karena hal sepele, mampu menyulut emosi mereka berdua. Perbedaan prinsip di antara begitu besar namun tidak mengurangi cinta di antara mereka.
Perceraian diucapkan dari bibir ibu Sarah. Pertengkaran yang begitu menyesakkan membuatnya menyerah pada keadaan dan beranggapan semuanya akan menjadi lebih baik dengan perceraian. Beliau berkata hal ini tidak akan merubah apapun bagi Sarah. Semuanya akan tetap sama. Sudah tujuh tahun Sarah tidak tinggal serumah dengan ayahnya karena pekerjaan beliau, bila itu berlanjut untuk selamanya karena perceraian, ibu Sarah berpikir semuanya tetap sama saja. Beliau berkata kasih sayang mereka untuk Sarah tidak akan pernah berubah.
Sarah hanya mampu tersenyum dan menghibur ibu Sarah, mengatakan padanya Sarah akan mendukung keputusan mereka, apapun itu. Sarah yakin pada mereka. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Sarah takut dia akan semakin kesepian. Tanpa saudara yang menemani di rumah, sudah cukup sunyi baginya. Bagaimana bila ditambah dengan tiadanya salah satu orang tuanya?
Di saat itulah Sarah membutuhkan pengertian dan perhatian Bintang. Sarahlah yang selalu menghibur ibunya, menguatkan ibunya dan kini dia membutuhkan seseorang untuk menguatkan dirinya sendiri. Dia membutuhkan Bintang untuk menghiburnya dan menguatkannya, dengan begitu Sarah akan terus mampu berpura-pura tersenyum di hadapan kedua orang tuanya. Tak bisakah Bintang mengerti hal itu? Kenapa yang terucap dari bibirnya adalah nama perempuan lain?
Bintang akhirnya mengalah setelah perdebatan panjang dengan Sarah. Dia menerima kalau Sarah ingin putus. Hanya saja, dia berharap mereka tetap mampu berteman walaupun telah putus.
“Kalau memang itu yang kamu mau, aku ngerti. Aku emang salah. Aku enggak bisa jadi yang terbaik buat kamu. Tapi, aku mau kita tetap berteman walaupun kita udah putus”, ucap Bintang.
“Enggak bisa. Aku enggak bisa”, ujar Sarah dengan tegas.
“Kenapa?”
“Karena aku begitu mencintaimu sehingga aku tidak bisa menganggapmu hanya sebagai teman biasa. Aku tidak bisa menerima kalau kamu begitu dekat denganku tapi kita sebenarnya terpisah”, jawab Sarah dalam hati.
“Kalau emang itu pun kamu enggak bisa, enggak apa-apa, aku terima. Tapi, kamu perlu tahu kalau aku sayang banget sama kamu. Walaupun kita udah putus, enggak akan merubah perasaanku ke kamu. Cuma kamu cewek yang aku cintai, cuma kamu satu-satunya. Aku akan terus jaga perasaanku ke kamu walau itu berarti aku enggak akan jalin hubungan dengan cewek lain. Aku berjanji sama kamu”, ucap Bintang pada Sarah.
Sarah hanya terdiam. Kaget mendengar Bintang berkata seperti itu. Sungguh, dalam hatinya Sarah bergembira mendengar ucapan Bintang yang begitu hangat. Tapi, Sarah tak mampu berkata-kata dengan lebih indah lagi.
Yang mampu Sarah ucapkan hanyalah..
“Kalau kamu enggak jalin hubungan sama cewek lain, berarti kamu enggak akan nikah?”, tanya Sarah.
“Iya.”
“Tang, kamu enggak boleh kayak gitu. Menikah itu sunnah Rasulullah, kamu enggak boleh ngomong sembarangan kayak gitu lagi. Ngerti?!!”
“Iya, oke kalau gitu. Tapi, aku tetap akan sayang sama kamu. Aku pulang dulu ya”, Bintang beranjak dari tempat duduknya dan berjalan perlahan menuju pagar rumah Sarah. Perlahan dia membuka pagar, berjalan ke luar dan menutup pagar itu kembali. Sambil berdiri di depan pagar, dia tatap Sarah yang masih duduk di teras rumahnya.
Tangisan Sarah semakin kencang dan tak terkendali. Dia tahu inilah yang dia inginkan tapi saat dia harus menghadapi kenyataan Bintang benar-benar pergi darinya, rasanya hatinya seperti dipukul oleh sesuatu yang sangat berat. Dia menangis hingga matanya memerah dan bahunya berguncang hebat.
Bintang bergegas kembali dan memeluk Sarah. Menenangkannya agar tidak menangis lagi. Di saat itulah pertahanan Sarah runtuh, dia tarik kembali kata-katanya. Dia mau Bintang kembali menemaninya dan tidak putus. Menurut Sarah, hal tu akan menjadi hal konyol terakhir yang akan dia lakukan. Tidak akan lagi permintaan putus. Tidak akan pernah. Tapi, keesokan harinya keadaan mulai berubah.
***
Tidak seperti biasanya, Bintang segera bergegas keluar kelas tanpa menunggu Sarah. Saat Sarah mengirimkan sms padanya, Bintang meminta untuk menyusulnya. Padahal biasanya, Bintanglah yang menjemputnya.
Sarah merasa aneh tentang kelakuan Bintang saat itu. Jujur saja, kejadian kemarin sudah dilupakan sepenuhnya oleh Sarah. Semua kesalahan Bintang sudah ia lupakan dan maafkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan mencoba lebih mengerti Bintang. Sarah tidak akan menuntut Bintang untuk memberikan perhatian yang sempurna untuknya.
Sarah memperhatikan hari itu Bintang tertawa seperti biasa, bercanda dengan teman-temannya seperti biasa. Tapi, Sarah tetap merasakan ada suatu hal yang aneh. Akhirnya Sarah memuutuskan untuk menguji Bintang.
Sarah merengek pada Bintang untuk diantarkan pulang karena ternyata hari itu dia tidak dijemput karena mobilnya akan dipakai oleh ayah Sarah. Padahal, tak sedikit pun ayah Sarah berencana menggunakan mobil Sarah. Sarah melihat Bintang agak bimbang untuk mengantarkan Sarah hingga akhirnya Biintang memutuskan untuk mengantarkan Sarah, namuan terlebih dahulu mereka harus berjalan kaki pulang ke kos Bintang untuk mengambil motor.
Sarah yang sekalipun belum pernah berjalan kaki pulang, mengiyakan ajakan Bintang dengan semangat. Tapi, lima menit kemudian Sarah mengeluh panas, capek dan lain sebagainya. Bintang terus bercanda sepanjang jalan, mungkin agar Sarah tidak terus-terusan mengeluh. Itu berhasil. Sarah tidak mengeluh, dia tertawa karena lelucon Bintang. Tapi karna tertawa, dia semakin merasa lelah. Setiap Sarah kelelahan, jantungnya akan berdebar cepat dan membuatnnya sesak napas. Sarah yang sudah mulai merasa sesak napas, menyembunyikan hal itu dari Bintang. Dia tetap terus mencoba tertawa.
Walaupun hari itu mereka berdua pulang dengan riang gembira, di dalam hati kecilnya, Sarah tetap merasa ada yang berubah dari Bintang. Ya, Bintang sudah berubah. Ada yang lain dari dirinya. Mendadak Bintang terasa dingin dan jauh.
***
(BERSAMBUNG)

Sarah (part 3)

Cinta itu datang perlahan. Membelai lembut hati Sarah dan membuatnya seakan terbang melayang.

Perangai Bintang yang lembut, penuh perhatian dan penuh cinta, membuat hati Sarah makin terpikat. Sarah mencintainya, Sarah sangat takut kehilangan Bintang sehingga dia menjadi seorang yang pencemburu.

Sarah tahu Bintang masih sangat dekat dengan mantan kekasihnya. Mungkin Bintang tidak sadar, tapi Sarah sering menanyakan pada Bintang tentang mantan-mantan pacarnya. Sarah berkilah, itu hanya agar dia lebih mengerti tentang Bintang.

Sarah bertanya pada Bintang, siapa mantannya yang paling cantik, siapa yang paling pintar, dan masih banyak lagi. Saat Sarah bertanya tentang mantan pacar Bintang sebelum Sarah, Bintang menjawab kalau dia adalah cewek yang cantik, modis, pintar. Pintar menggambar, pintar berbagai macam bahasa. Di depan Bintang, Sarah mencoba tersenyum tapi di hatinya seperti diiris-iris. Apalagi saat Bintang bilang kalau cewek itu adalah mantan pacarnya yang paling dia sayang. Sarah menangis saat itu juga. Memang hanya satu tetes air mata yang berani dia keluarkan sebelum dia usap air matanya dan dia tahan isak tangisnya. Tanpa Bintang tahu, di belakangnya Sarah menangis menahan hatinya yang terasa perih atas kejujuran Bintang. Sarah merasa iri pada cewek itu. Sarah merasa dirinya tidak cantik, tidak modis dan tidak pintar. Sarah hanya cewek yang biasa-biasa saja, tidak punya banyak kelebihan tapi punya banyak kekurangan. Bagaimana dia bisa bersaing dengan cewek yang sesempurna itu?

Setiap Sarah melihat facebook Bintang dan Sarah memergoki mereka berdua saling mengomentari status masing-masing, Sarah kembali menangis. Sarah takut dia hanya pelarian Bintang untuk melupakan mantan pacarnya itu. Hati Sarah semakin sakit saat dia tahu tugas dari kampus milik Bintang ternyata dibuatkan oleh mantan pacarnya itu. Sarah tahu dia tidak pintar tapi kenapa harus cewek itu? Kenapa bukan orang lain? Kenapa cewek itu terus aja dekat dengan Bintang? Tak tahukah dia bagaimana kalau dia yang menjadi Sarah? Tak tahukah dia sekarang Bintang sudah memiliki Sarah? Tak tahukah dia Sarah sakit hati dengan kelakuannya?

Sarah tak ingin terus menumpuk rasa cemburunya, maka dia memutuskan untuk sementara ini tidak membuka facebooknya dulu, agar dia tidak tergoda melihat facebook Bintang. Bahkan saat Bintang memberitahukan pasword facebook miliknya, Sarah satu kalipun tidak pernah membukanya. Sarah tidak ingin melihat dan membaca sedikit pun tentang mereka berdua. Biarlah yang ia tahu hanyalah Bintang adalah pacarnya dan Bintang mencintainya. Hanya itu yang dia butuhkan. Tidak ada yang lain.

Namun ternyata itu semua tidak berakhir. Semua dimulai dengan sebuah sms salah kirim dari Bintang. Isinya, Bintang menanyakan apakah si penerima sms masih seriing memasak. Sarah yang mengira sms itu ditujukan untuknya, langsung dengan semangat membalas sms itu. Sarah kaget ternyata Bintang tahu Sarah suka memasak. Tapi ternyata, balasan sms dari Bintang benar-benar mengecewakan. Dalam smsnya itu, Bintang meminta maaf bahwa sebenarnya sms itu bukan untuk Sarah tapi untuk Kiky, temannya di Makassar. Itu kesalahan pertama.

Kesalahan kedua saat Sarah tahu Ran adalah nama panggilan untuk mantan pacar Bintang. Padahal saat pertama kali pacaran, Bintang pernah meminta Sarah agar mau dipanggil Ran.

Kesalahan ketiga, saat Bintang salah memanggil nama Sarah dengan nama “Ran”. Dan kejadian itu tidak hanya sekali terjadi.

Kesalahan keempat, saat Bintang menunjukkan foto mantan pacarnya dan mengatakan kalau mantan pacarnya itu sangat mirip dengan Sarah.

Kesalahan kelima, saat Sarah sedang marah pada Bintang karena Bintang tidak mau menelepon Sarah. Padahal saat itu Sarah sedang mengalami masalah berat. Orang tua Sarah mau bercerai. Hari itu pertama kalinya Sarah tahu tentang hal itu dan itu juga hari ulang tahun Bintang. Seharian Sarah mencoba melupakan masalah keluarganya dengan berkonsentrasi membuatkan cake ulang tahun untuk Bintang karena malam sebelumnya Sarah tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun untuk Bintang disebabkan masalah keluarganya. Walaupun akhirnya ibu Sarah membantunya dengan menghiaskan cake itu, namun Sarah benar-benar berjuang keras agar bisa mempersembahkan cake itu untuk Bintang.

Sarah bisa maklum kalau Bintang tidak mau menelepon karena tidak punya pulsa tapi kenapa Bintang juga tidak mau ditelepon oleh Sarah? Sarah hanya ingin dia didengar oleh Bintang. Sarah hanya butuh teman untuk menguatkannya, meyakinkannya bahwa dia akan baik-baik saja walau orang tuanya bercerai. Sarah takut sendirian, Sarah takut kesepian. Tidak tahukah Bintang tentang hal itu? Kenapa Bintang menolaknya? Ternyata saat itu Bintang sedang smsan dengan mantan pacarnya yang disebutnya Ran. Sarah tahu hal itu karena Bintang salah memanggilnya dengan nama Ran.

Sarah sangat mencintai Bintang, Sarah mencintainya dengan seluruh hati dan pikirannya tapi Sarah tidak tahu kenapa dia sering meminta putus dari Bintang. Dia tahu dia tidak sanggup putus dari Bintang, dia tetap berkeras hati ingin putus. Setiap itu terjadi, Bintang memohon padanya dengan lembut agar Sarah memaafkannya. Dan setiap itu terjadi, Sarah selalu menerimanya kembali. Lalu, Bintang akan memeluknya dan mengecup dahinya sambil mengatakan bahwa ia mencintai Sarah.

Sarah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa Bintang benar-benar mencintai dirinya, hanya dirinya. Tapi, mengapa hal itu begitu susah? Apakah Bintang sudah berubah?