Sarah (part 7)

Sarah ingat beberapa hari setelah putus, dia masih dekat dengan Bintang. Bintang masih mengantarkannya pulang. Bahkan Bintang menghabiskan waktu seharian dengannya di rumah Sarah. Lalu, saat akan pulang Bintang mengecup dahi Sarah. Sarah semakin bingung. Sebenarnya apa yang Bintang inginkan?

Namun, Sarah mulai berusaha untuk berhenti berharap pada Bintang setelah Bintang mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan baginya.

“Bintang, aku butuh kamu. Aku sayang kamu. Aku gak mau kita putus”, pinta Sarah melalui telepon pada Bintang.

“Maaf Sarah. Aku enggak bisa.”

“Kenapa?? Kenapa enggak bisa? Aku sayang sama kamu Bintang, aku sayang kamu”, ujar Sarah sambil menangis.

“Pokoknya aku enggak bisa Sarah. Aku enggak pantas buat kamu. Kamu bisa dapetin yang jauh lebih baik daripada aku.”

“Ada orang lain kan? Ada cewek lain kan? Iya kan? Ngaku aja kamu!!!”

“Enggak Sarah. Enggak ada. Sumpah, enggak ada cewek lain.”

“Terus kenapa? Kamu udah enggak cinta lagi sama aku?”

“Iya Sarah. Aku enggak cinta sama kamu.”

“Apa sekarang kamu benci sama aku??”, tanya Sarah dengan suara terbata-bata karena ia menangis semakin kencang.

“Iya. Aku benci sama kamu.”

“Tapi kenapa Bintang?? Kenapa??”

“Aku enggak suka aja sama kamu.”

“Apa?? Kamu bohong kan??”

“Aku enggak bohong. Sumpah demi Allah aku benci sama kamu. Aku bener-bener benci sama kamu. Udah dulu ya, assalamu’alaikum”, lalu Bintang segera menutup teleponnya, meninggalkan Sarah yang menangis sendirian.

***

Sudah berminggu-minggu kedua mata Sarah selalu basah dengan air mata, mulutnya tak lagi menyunggingkan senyum, berat badannya turun drastis karna dia tak memiliki nafsu makan.

Sarah terus saja menangis. Sarah menangis setiap melihat Bintang dan mantannya saling sapa di fb. Sarah menangis setiap melihat Rani mengajak Bintang makan melalui fb. Sarah menangis melihat Rani memanggil Bintang dengan sebutan abang melalui fb. Sarah menangis setiap melihat foto-fotonya dengan Bintang. Sarah menangis setiap dia mengingat segala kenangan indah bersama Bintang. Sarah menangis setiap melihat Bintang. Air mata Sarah seakan tak pernah kering.

Sampai saat ini, Sarah tidak pernah mengerti alasan yang membuat Bintang begitu cepat berubah, hingga sampai pada suatu hari Sarah chattingan dengan mantan Bintang yang bernama Ran. Saat itu Ran memberitahu Sarah bahwa selama Sarah pacaran dengan Bintang, Bintang pernah meminta Ran untuk jadian lagi dengannya dan Ran hampir saja menerimanya namun akhirnya ia tolak. Tak cuma itu saja, menurut Ran, Bintang memiliki dua fb. Fb yang satu adalah fb yang Sarah punya dan yang satunya lagi Ran pun tidak memilikinya. Namun, Ran pernah melihat fb Bintang yang satu lagi melalui fb teman Ran, dan di situ Bintang sangat dekat dengan temannya yang bernama Kiky, yang sekali lagi menurut Ran, merupakan penganggu hubungannya dengan Bintang saat mereka masih pacaran.

Sarah tidak tahu apakah Sarah harus percaya atau tidak. Dia berusaha tidak mempercayai itu semua, karena di dalam hatinya ia sangat yakin Bintang tidak seperti itu. Namun, akhirnya waktu yang menjawab semuanya. Hampir dua bulan setelah mereka putus, Bintang telah jadian dengan seorang cewek bernama Kiky. Kiky yang sama dengan Kiky yang diceritakan Ran dan Kiky yang ditulis Bintang dalam smsnya yang salah kirim hingga sampai ke Sarah. Ternyata Bintang telah menduakannya sudah sangat lama dan Sarah tak pernah menyadarinya. Dia terlalu mempercayai Bintang, dia terlalu mencintai Bintang sehingga buta akan kenyataan.

Tangis Sarah semakin tak terkendali. Ia terus saja menangis hingga ia mulai merasa tidak betah menuntut ilmu di kampusnya saat ini karna dia tak tahan melihat Bintang. Sarah memutuskan untuk pindah. Sebenarnya sejak ia masih SD, Sarah bercita-cita untuk kuliah di sebuah perguruan tinggi kedinasan di Jakarta tempat orang tuanya menuntut ilmu. Hingga ia diterima di kampusnya saat ini pun, impian itu tak pernah hilang. Namun, sejak ia jatuh cinta pada Bintang, ia tak lagi ingin kuliah di sana. Sarah hanya ingin selalu dekat dengan Bintang. Kini keadaan telah berubah. Bintang mengkhianati cinta dan kepercayaannya, Bintang menyanjungnya tinggi-tinggi lalu membuangnya begitu saja. Sarah bertekad untuk kembali meraih impiannya menuntut ilmu di perguruan tinggi kedinasan tersebut.

Akankah Sarah benar-benar pindah padahal untuk masuk ke perguruan tinggi kedinasan tersebut sangat susah? Akankah Sarah mampu melupakan Bintang?

***

(bersambung)

Sarah (part 6)

Sarah memiliki seorang teman dekat di kampusnya yang bernama Rani. Rani seorang perempuan yang tomboy, polos, manja dan kekanak-kanakan. Sarah sangat mempercayai Rani. Walaupun Mita adalah sahabat Sarah, namun Sarah hanya menceritakan semua masalahnya dengan Bintang saat mereka masih pacaran pada Rani. Rani memang tidak bisa memberikan solusi yang baik tapi dia adalah seorang pendengar yang baik. Itu semua lebih dari cukup bagi Sarah. Sarah hanya membutuhkan tempat untuk bercerita. Sarah sayang pada Rani sebagai seorang sahabat, Sarah sangat berterimakasih karna Rani selalu mendengarkan keluh-kesah Sarah.

Saat Sarah putus dari Bintang, orang pertama yang dia telepon adalah Rani. Sambil menangis sesenggukan, dia menceritakan semuanya pada Rani. Tidak hanya lewat telepon, Sarah pun bercerita lewat sms.

Mungkin tindakan Sarah mulai menganggu Rani hingga suatu kali saat Sarah sedang hilang kendali, dia sms Rani.

To : Rani

From : Sarah

Ran, aku masih sayang banget sama Bintang. Aku masih aja nangisin dia. Aku butuh dia Ran. Aku kangen banget sama dia. Tapi, aku tahu dia udah ninggalin aku. Aku ngerasa aku bodoh banget.

Sarah berharap Rani mengirimkannya kata-kata penyemangat, tapi ternyata sebaliknya.

To : Sarah

From : Rani

Iya, kamu bodoh

Sarah sangat tersinggung dengan kata-kata Rani. Sarah merasa Rani mulai berubah dan itu memang benar.

Sarah melihat akhir-akhir ini Rani dan Bintang menjadi sangat dekat. Di facebook, Rani dengan terang-terang mengajak Bintang makan berdua. Rani memanggilnya abang. Tidak hanya sekali atau dua kali, tapi berkali-kali.

Tidak hanya itu, Rani semakin sulit dihubungi. Saat Sarah sms dia untuk curhat, Rani memberikan jawaban tidak jelas. Katanya dia sedang pergi. Ternyata dari facebook terlihat kalau saat itu Rani sedang pergi dengan Bintang.

Sarah benar-benar kecewa.

***

“Kenapa sih kamu? Ngeliatin apa?”, tanya Mita saat mereka sedang di kelas.

“Itu Mit.. Aku ngerasa ada yang aneh antara Rani sama Bintang.”

“Mereka jadi deket banget?”

“Iya Mit. Padahal kan Rani tahu aku masih cinta sama Bintang. Dia tempat curhatku kalau aku lagi ada masalah sama Bintang. Aku ceritain semuanya sama dia. Tapi, kenapa saat aku udah putus, dia susah banget aku hubungi dan dia jadi nempel sama Bintang. Udah kayak orang pacaran. Aku sakit hati Mit.”

“Sayang, yang sabar ya. Aku punya berita tentang mereka berdua tapi kamu jangan nangis ya”, ucap Mita dengan ekspresi khawatir.

“Apaan?”

“Sekarang mereka selalu berangkat dan pulang bareng.”

“Aku tahu. Aku udah liat. Rasanya mereka berdua pengen aku tabrak. Si Rani itu apa enggak ada rasa simpati? Apa dia enggak punya hati? Aku udah anggap dia sahabat. Aku percaya banget sama dia. Aku aja enggak nyeritain masalahku ke kamu, Cuma ke dia aku ceritain semuanya. Si Rani itu bener-bener....”

“Sssttt....Rani dateng”, kata Mita sambil menunjuk ke arah pintu kelas.

Sarah terhenyak begitu melihat Rani melenggang dengan santainya ke dalam kelas sambil menggulung lengan jaketnya yang kebesaran. Tentu aja kebesaran, karena itu jaket Bintang yang selama ini sering dipinjam oleh Sarah.

Tanpa menengok ke arah Sarah, Rani langsung duduk di depan Sarah dan Mita.

“Ranii..”, panggil Mita.

“Iya, kenapa Mit?”

“Jaket baru ya?”

“Mmm...enggak kok. Ini jaketnya abang”, jawab Rani lirih sambil mengerling ke arahku.

Sontak air mata Sarah mengalir. Entah Rani melihatnya atau tidak, namun Mita yang melihatnya langsung kebingungan karna saat itu dosen sudah memasuki kelas dan pelajaran sudah dimulai.

Tidak hanya sekali Sarah menangis karena kelakuan Rani. Suatu hari, Sarah melihat Rani membawa-bawa sesuatu di tangannya. Itu adalah sebuah tasbih yang Sarah ingat sekali kalau tasbih itu milik Bintang yang kembar dengan miliknya, karena tasbih itu didapat dari souvenir pernikahan saudara Sarah yang Bintang kunjungi.

Hati Sarah mendidih melihatnya. Tasbih itu diputar-putar oleh Rani, dilempar-lempar dan yang terakhir dibuangnya di lantai. Kalau memang Bintang tidak membutuhkan tasbih itu, kenapa tidak dibuang saja? Atau dikembalikan padaku? Kenapa harus dikasih ke Rani? Begitu pikir Sarah.

Sejak saat itu, Sarah tidak pernah lagi menganggap Rani sebagai sahabat. Dia berpikiran, sahabat macam apa yang berdiri tegak di atas penderitaan sahabatnya. Sahabat macam apa yang tertawa-tawa sementara sahabatnya menangis setiap hari?

***

(bersambung)