Di Balik Jeruji

“Mbok, makanannya sudah siap?”

“Sudah pak, sudah saya taruh di dalam rantang yang biasanya pak.”

“Bunga kesukaan ibu tadi saya taruh mana ya mbok?”, tanya Andi sambil menoleh kanan-kiri.

“Tadi bapak ditaruh di ruang tengah pak.”

“Oh iya, saya lupa. Ya sudah, terima kasih mbok.”

“Iya pak. Salam untuk ibu, ya pak. Saya permisi ke dalam dulu”, ujar mbok Inah lalu melangkah pergi meninggalkan Andi sendirian di ruang makan.

Andi menyelesaikan sarapannya lalu melangkah pergi sambil menenteng rantang dan sebuket bunga lili yang sangat indah. Dengan berhati-hati, Andi menaruh rantang dan bunga tersebut di dalam mobil lalu segera mengendarai mobilnya sambil bersiul-siul.

Setengah jam kemudian, Andi memarkir mobilnya di pelataran parkir sebuah gedung besar yang ramai dengan orang-orang keluar-masuk gedung tersebut. Andi melangkah dengan tegap menuju pintu masuk gedung tersebut dan bergumam, “Aku datang, istriku tercinta.”

Andi mendongakkan kepalanya dan terlihat sebuah papan nama gedung tersebut. Papan nama tersebut bertuliskan Rumah Sakit Jiwa.

***

Dua tahun yang lalu...

“Ana, maukah kau menikah denganku?”

Ana menatap Andi yang tengah berlutut di hadapannya sembari mengulurkan tangannya yang memegang sebuah kotak berisi cincin yang sangat indah.

Malam itu, adalah hari peringatan tahun ke-5 mereka telah menjalin hubungan asmara. Mereka makan malam di sebuah restoran favorit mereka yang terletak di pinggir pantai. Ditemani cahaya temaram obor yang dipasang di sekitar meja-meja restoran, tampak wajah Ana berseri-seri mendengar pinangan dari Andi.

Ana menghela nafas panjang, lalu ia berkata, “Bismillahirrahmanirrahim aku terima pinanganmu, Andi. Semoga ini menjadi awal yang indah untuk kita berdua.”

“Amin. Alhamdulillah, terima kasih sayang”, ucap Andi dan dengan tangan gemetar ia pasangkan cincin itu di jari manis Ana.

Ana memandang cincin yang kini melingkar di jari manisnya, namun ia mendadak menangis.

“Sayang, kamu kenapa?”, tanya Andi dengan wajah khawatir.

“Lintang...Lintang...”, Ana menangis tersdu-sedu.

“Kenapa sayang? Lintang kenapa?”

“Kakakku Lintang mencintaimu seperti aku mencintaimu”, jawab Ana di sela-sela tangisnya.

“Apa??”

“Andi, bagaimana aku bisa menikah denganmu kalau kakakku pun mencintaimu? Bagaimana caranya aku memberitahu Lintang???”

***

(bersambung)

Sarah (The Final)

Empat bulan kemudian...

Dering alarm berbunyi nyaring membangunkan Sarah yang sedang terbuai mimpi.

“Aaargh..masih ngantuk. Bete deh”, ucap Sarah sambil terus menguap.

Satu jam kemudian, Sarah sudah bersiap dengan kemeja polos warna putih, rok hitam, kerudung ungu yang ditata rapi dan terakhir ia mengalungkan kartu tanda mahasiswa miliknya yang berwarna kuning terang. Setelah berkaca untuk memastikan semuanya sempurna, Sarah berangkat ke kampus. Ia berjalan berhati-hati, kepalanya selalu menunduk ke bawah agar ia bisa sigap menghindari ayam-ayam yang berkeliaran, kucing yang lari sembarangan atau sampah-sampah yang berserakan.

Sesampainya di area kampus, Sarah berjalan cepat-cepat sebab gedung yang ia tempati berada di dekat gerbang depan sedangkan ia masuk melalui gerbang belakang.

Sarah menengok bagian bawah sepatunya yang kotor tertutupi tanah sambil berujar, “Begini nih kalau pergi kemana-mana harus jalan kaki ,lewat jalan kampung pula, sepatuku deh yang jadi korban. Kapan lagi aku berangkat kuliah gak kepanasan, gak keujanan, gak perlu becek-becekan begini? Kapan lagi aku pergi kemana-mana pake mobil pribadi?”

Selama ia berjalan menuju kelasnya, ia mengamati orang-orang yang berjalan mendahuluinya sambil bergumam, “Putih-hitam, krem-hitam, biru-hitam, krem-coklat. Wah, ada yang hijau-hitam. Tapi tetep aja bikin berasa uda tua, kayak orang udah kerja. Kapan lagi aku kuliah pake celana jeans? Kapan lagi aku berangkat kuliah pake kaos? Kapan lagi aku kuliah pake jilbab langsung, bukan jilbab segiempat kayak gini yang makenya aja ribet banget? Hhh...”

“Saraaah...”

“Hai neng, tumben berangkat pagi”, ujar Sarah.

“Aku pengen foto nih di depan air mancur itu. Fotoin dong”, pinta Ambar.

“Jadi kamu berangkat pagi karna mau foto? Hahaha..”

“Udah to, jangan ngejek. Yuk!”, ajak Ambar sambil menarik tangan Sarah.

“1..2..3..”

Sarah memandangi foto yang baru saja ia ambil. Mendadak dia tersenyum manis sekali.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri liat fotoku?”

“Pede banget! Bukan fotomu yang bikin aku senyum tapi backgroundnya. Dari tadi pagi aku ngeluh terus, sepatuku kotor, cara aku berpakaian dibatasi, ini dan itu, tapi aku sadar enggak ada tempat lain yang buat aku bahagia selain di sini. Aku pikir aku telah menyerahkan segalanya untuk bisa sampai di sini, kenyamanan, fasilitas bahkan aku meninggalkan hatiku tapi ternyata aku salah. Hatiku tetap ada di sini, karena kampus inilah hatiku sekarang”, sambil menunjukkan foto yang tadi ia ambil dengan Ambar sebagai objek fotonya dan background berupa kolam dengan air mancur beserta tulisan STAN.

***

“Selesai sudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah...”

“Mana sini aku baca”, kata Lia sambil membaca cerita buatan Cinta.

Lia membaca dengan serius cerita buatan Cinta, sesekali ia menghela napas.

“Terus Bintang sama Sarah gimana? Kok enggak ada kelanjutannya?”, tanya Lia.

“Biar itu jadi misteri. Hehehe..”

“Apa sih, bikin penasaran aja deh. Sarah sebenarnya masih sayang ama Bintang atau enggak? Kenapa enggak dikasih akhir yang jelas to Cin?”

“Karena memang tidak ada akhir yang jelas tentang hubungan mereka berdua. Itulah akhir dari hubungan mereka. Mereka berpisah dan Sarah pergi dari Bintang.”

“Aku enggak suka dengan akhir yang kayak gini. Kasihan Sarah.”

“Enggak usah sedih hanya karena suatu cerita yang aku buat kali neng”, ujar Cinta sambil tersenyum manis.

“Aku sedih karena aku tahu Sarah adalah kamu. Kamu menulis cerita tentang dirimu sendiri dan akhir yang seperti ini membuatku semakin sedih.”

“....”

TAMAT

Sarah (part 8)

Sarah memandangi kedua buku yang ada di hadapannya. Kumpulan Soal-Soal USM, begitu judul buku yang ada di sebelah kanan, sedangkan yang satunya berjudul Rangkaian Digital.

“I’m broken. Aaaargh.......”

Butiran-butiran air mata menetes dari kedua matanya. Kesedihan itu menyeruak kembali ke permukaan. Dia melempar kedua buku tersebut dari hadapannya.

***

“Dek, kamu beneran mau daftar ke universitas itu lagi?”

“Iya pak, dari dulu Sarah pengen kuliah di sana.”

“Bapak cuma enggak mau kamu terburu-buru ngambil keputusan. Tapi, kalau itu yang kamu mau ya sudah. Bapak ingatkan, di sana tidak seperti kuliahmu sekarang. Di sana lebih banyak lagi membutuhkan kerja keras dan disiplin. Kamu juga akan jauh dari bapak sama ibu.”

“Sarah tahu pak, Sarah sudah siap sama semua resikonya.”

“Dek, mengejar mimpi itu hal yang bagus. Tapi, jangan terlalu kecewa kalau kamu gak bisa dapetinnya. Cintailah apa yang kamu miliki sekarang, ikhlaskanlah sesuatu yang mungkin tidak bisa kamu dapatkan.”

“Iya pak”, tapi aku tidak akan melepaskan mimpiku ini, tidak seperti aku melepaskan Bintang, tambah Sarah dalam hati.

“Bapak ngomong apa?”, tanya ibu Sarah mengagetkan Sarah yang sedang melamun.

“Ya gitu deh bu.”

“Dasar kamu ini, sukanya aneh-aneh aja! Patah hati bikin pengennya yang aneh-aneh”, sindir ibu Sarah.

“Aneh-aneh apa coba? Kan aku memang dari dulu pengen kuliah di situ bu.”

“Kemarin kamu tiba-tiba nangis histeris, mbak Ros bilang kamu sekarang gak pernah makan di rumah, terus kemarin tiba-tiba minta ngekos, sekarang minta pindah kuliah padahal baru aja ngekos sebulanan. Gara-gara patah hati sama si Bintang kan?”

“Enggaklah bu.”

“Kalau enggak terus kenapa? Anak ibu kok bisa-bisanya patah hati kayak gitu. Makanya to, ibu bilang apa? Kalau pacaran enggak usah serius-serius dulu, dia setiaphari main terus ke rumah, udah kayak besok mau nikah aja.”

“Idih, apaan sih bu. Ibu enggak suka kalau Bintang main ke rumah atau ibu enggak suka sama Bintang?”, selidik Sarah.

“Bukannya enggak suka, bukan itu maksud ibu, cuma ibu enggak suka kamu jadi kayak gini gara-gara putus sama Bintang. Dulu waktu SMA, kamu putus itu kamu malah tenang-tenang aja. Waktu kamu nangis itu, ibu baru pertama kali liat kamu nangis sampai kayak gitu. Bahkan waktu dulu berantem sama bapak dan ibu, kamu enggak nangis kayak gitu. Kamu cuma nangis sebentar, kalau sekarang kamu sampai histeris begitu. Kamu cinta sama dia? Iya kan?”

“...”

“Tuh kan, ibu bener. Sekarang dia gimana sama kamu? Masih deket sama kamu?”

“Enggak bu. Aku juga enggak mau deket-deket dia lagi.”

“Sebenarnya ibu kemarin sms dia setelah kamu nangis.”

“Apa?? Boong ah, ibu sms apaan? Duuh, ibu kenapa ikut-ikut sih?”

“Ya habis ibu emosi liat kamu gitu tapi habis itu ibu nyesel sms Bintang kayak gitu. Tapi gimana lagi, udah terlanjur terkirim.”

“Pokoknya ibu besok-besok enggak usah ikut-ikut lagi ya??”

“Iya-iya, dasar kamu itu galak banget sama ibunya. Awas aja kalau ibu tahu kamu masih nangis-nangis kayak kemarin!”

“Iyaaaa ibuuu.. Udah deh.”

“Sama besok-besok kalau nyari pacar orang jawa aja.”

“Enggak ada hubungannya ibuku sayaaaaaaaang.”

“Hahaha...Biar aja”, ujar ibu Sarah sambil berlalu pergi.

***

Hari ini hari dimana Sarah mengikuti tes masuk perguruan tinggi kedinasan tersebut. Hanya dengan bermodal nekad dan perasaan sayang jika menyia-nyiakan uang pendaftaran tes masuk itu. Tanpa mempelajari soal-soal tentang tes masuk perguruan tinggi kedinasan tersebut.

“Enggak diterima pun enggak apa-apa, yang penting aku udah nyoba. Walaupun aku yakin enggak akan keterima, senggaknya aku mencoba. Orang-orang yang ada di sini datang dengan berbagai alasan dan mungkin alasankulah yang paling konyol. Mendaftar hanya karena aku patah hati. Sudah jelas aku akan dieliminasi”, ungkap Sarah dalam hati sambil menunggu tes dimulai.

***

(bersambung)