Sarah (The Final)

Empat bulan kemudian...

Dering alarm berbunyi nyaring membangunkan Sarah yang sedang terbuai mimpi.

“Aaargh..masih ngantuk. Bete deh”, ucap Sarah sambil terus menguap.

Satu jam kemudian, Sarah sudah bersiap dengan kemeja polos warna putih, rok hitam, kerudung ungu yang ditata rapi dan terakhir ia mengalungkan kartu tanda mahasiswa miliknya yang berwarna kuning terang. Setelah berkaca untuk memastikan semuanya sempurna, Sarah berangkat ke kampus. Ia berjalan berhati-hati, kepalanya selalu menunduk ke bawah agar ia bisa sigap menghindari ayam-ayam yang berkeliaran, kucing yang lari sembarangan atau sampah-sampah yang berserakan.

Sesampainya di area kampus, Sarah berjalan cepat-cepat sebab gedung yang ia tempati berada di dekat gerbang depan sedangkan ia masuk melalui gerbang belakang.

Sarah menengok bagian bawah sepatunya yang kotor tertutupi tanah sambil berujar, “Begini nih kalau pergi kemana-mana harus jalan kaki ,lewat jalan kampung pula, sepatuku deh yang jadi korban. Kapan lagi aku berangkat kuliah gak kepanasan, gak keujanan, gak perlu becek-becekan begini? Kapan lagi aku pergi kemana-mana pake mobil pribadi?”

Selama ia berjalan menuju kelasnya, ia mengamati orang-orang yang berjalan mendahuluinya sambil bergumam, “Putih-hitam, krem-hitam, biru-hitam, krem-coklat. Wah, ada yang hijau-hitam. Tapi tetep aja bikin berasa uda tua, kayak orang udah kerja. Kapan lagi aku kuliah pake celana jeans? Kapan lagi aku berangkat kuliah pake kaos? Kapan lagi aku kuliah pake jilbab langsung, bukan jilbab segiempat kayak gini yang makenya aja ribet banget? Hhh...”

“Saraaah...”

“Hai neng, tumben berangkat pagi”, ujar Sarah.

“Aku pengen foto nih di depan air mancur itu. Fotoin dong”, pinta Ambar.

“Jadi kamu berangkat pagi karna mau foto? Hahaha..”

“Udah to, jangan ngejek. Yuk!”, ajak Ambar sambil menarik tangan Sarah.

“1..2..3..”

Sarah memandangi foto yang baru saja ia ambil. Mendadak dia tersenyum manis sekali.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri liat fotoku?”

“Pede banget! Bukan fotomu yang bikin aku senyum tapi backgroundnya. Dari tadi pagi aku ngeluh terus, sepatuku kotor, cara aku berpakaian dibatasi, ini dan itu, tapi aku sadar enggak ada tempat lain yang buat aku bahagia selain di sini. Aku pikir aku telah menyerahkan segalanya untuk bisa sampai di sini, kenyamanan, fasilitas bahkan aku meninggalkan hatiku tapi ternyata aku salah. Hatiku tetap ada di sini, karena kampus inilah hatiku sekarang”, sambil menunjukkan foto yang tadi ia ambil dengan Ambar sebagai objek fotonya dan background berupa kolam dengan air mancur beserta tulisan STAN.

***

“Selesai sudaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah...”

“Mana sini aku baca”, kata Lia sambil membaca cerita buatan Cinta.

Lia membaca dengan serius cerita buatan Cinta, sesekali ia menghela napas.

“Terus Bintang sama Sarah gimana? Kok enggak ada kelanjutannya?”, tanya Lia.

“Biar itu jadi misteri. Hehehe..”

“Apa sih, bikin penasaran aja deh. Sarah sebenarnya masih sayang ama Bintang atau enggak? Kenapa enggak dikasih akhir yang jelas to Cin?”

“Karena memang tidak ada akhir yang jelas tentang hubungan mereka berdua. Itulah akhir dari hubungan mereka. Mereka berpisah dan Sarah pergi dari Bintang.”

“Aku enggak suka dengan akhir yang kayak gini. Kasihan Sarah.”

“Enggak usah sedih hanya karena suatu cerita yang aku buat kali neng”, ujar Cinta sambil tersenyum manis.

“Aku sedih karena aku tahu Sarah adalah kamu. Kamu menulis cerita tentang dirimu sendiri dan akhir yang seperti ini membuatku semakin sedih.”

“....”

TAMAT

0 komentar:

Posting Komentar