Sarah (part 8)

Sarah memandangi kedua buku yang ada di hadapannya. Kumpulan Soal-Soal USM, begitu judul buku yang ada di sebelah kanan, sedangkan yang satunya berjudul Rangkaian Digital.

“I’m broken. Aaaargh.......”

Butiran-butiran air mata menetes dari kedua matanya. Kesedihan itu menyeruak kembali ke permukaan. Dia melempar kedua buku tersebut dari hadapannya.

***

“Dek, kamu beneran mau daftar ke universitas itu lagi?”

“Iya pak, dari dulu Sarah pengen kuliah di sana.”

“Bapak cuma enggak mau kamu terburu-buru ngambil keputusan. Tapi, kalau itu yang kamu mau ya sudah. Bapak ingatkan, di sana tidak seperti kuliahmu sekarang. Di sana lebih banyak lagi membutuhkan kerja keras dan disiplin. Kamu juga akan jauh dari bapak sama ibu.”

“Sarah tahu pak, Sarah sudah siap sama semua resikonya.”

“Dek, mengejar mimpi itu hal yang bagus. Tapi, jangan terlalu kecewa kalau kamu gak bisa dapetinnya. Cintailah apa yang kamu miliki sekarang, ikhlaskanlah sesuatu yang mungkin tidak bisa kamu dapatkan.”

“Iya pak”, tapi aku tidak akan melepaskan mimpiku ini, tidak seperti aku melepaskan Bintang, tambah Sarah dalam hati.

“Bapak ngomong apa?”, tanya ibu Sarah mengagetkan Sarah yang sedang melamun.

“Ya gitu deh bu.”

“Dasar kamu ini, sukanya aneh-aneh aja! Patah hati bikin pengennya yang aneh-aneh”, sindir ibu Sarah.

“Aneh-aneh apa coba? Kan aku memang dari dulu pengen kuliah di situ bu.”

“Kemarin kamu tiba-tiba nangis histeris, mbak Ros bilang kamu sekarang gak pernah makan di rumah, terus kemarin tiba-tiba minta ngekos, sekarang minta pindah kuliah padahal baru aja ngekos sebulanan. Gara-gara patah hati sama si Bintang kan?”

“Enggaklah bu.”

“Kalau enggak terus kenapa? Anak ibu kok bisa-bisanya patah hati kayak gitu. Makanya to, ibu bilang apa? Kalau pacaran enggak usah serius-serius dulu, dia setiaphari main terus ke rumah, udah kayak besok mau nikah aja.”

“Idih, apaan sih bu. Ibu enggak suka kalau Bintang main ke rumah atau ibu enggak suka sama Bintang?”, selidik Sarah.

“Bukannya enggak suka, bukan itu maksud ibu, cuma ibu enggak suka kamu jadi kayak gini gara-gara putus sama Bintang. Dulu waktu SMA, kamu putus itu kamu malah tenang-tenang aja. Waktu kamu nangis itu, ibu baru pertama kali liat kamu nangis sampai kayak gitu. Bahkan waktu dulu berantem sama bapak dan ibu, kamu enggak nangis kayak gitu. Kamu cuma nangis sebentar, kalau sekarang kamu sampai histeris begitu. Kamu cinta sama dia? Iya kan?”

“...”

“Tuh kan, ibu bener. Sekarang dia gimana sama kamu? Masih deket sama kamu?”

“Enggak bu. Aku juga enggak mau deket-deket dia lagi.”

“Sebenarnya ibu kemarin sms dia setelah kamu nangis.”

“Apa?? Boong ah, ibu sms apaan? Duuh, ibu kenapa ikut-ikut sih?”

“Ya habis ibu emosi liat kamu gitu tapi habis itu ibu nyesel sms Bintang kayak gitu. Tapi gimana lagi, udah terlanjur terkirim.”

“Pokoknya ibu besok-besok enggak usah ikut-ikut lagi ya??”

“Iya-iya, dasar kamu itu galak banget sama ibunya. Awas aja kalau ibu tahu kamu masih nangis-nangis kayak kemarin!”

“Iyaaaa ibuuu.. Udah deh.”

“Sama besok-besok kalau nyari pacar orang jawa aja.”

“Enggak ada hubungannya ibuku sayaaaaaaaang.”

“Hahaha...Biar aja”, ujar ibu Sarah sambil berlalu pergi.

***

Hari ini hari dimana Sarah mengikuti tes masuk perguruan tinggi kedinasan tersebut. Hanya dengan bermodal nekad dan perasaan sayang jika menyia-nyiakan uang pendaftaran tes masuk itu. Tanpa mempelajari soal-soal tentang tes masuk perguruan tinggi kedinasan tersebut.

“Enggak diterima pun enggak apa-apa, yang penting aku udah nyoba. Walaupun aku yakin enggak akan keterima, senggaknya aku mencoba. Orang-orang yang ada di sini datang dengan berbagai alasan dan mungkin alasankulah yang paling konyol. Mendaftar hanya karena aku patah hati. Sudah jelas aku akan dieliminasi”, ungkap Sarah dalam hati sambil menunggu tes dimulai.

***

(bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar